Annual Meeting IMF-World Bank 2018: Pesawat Buatan Indonesia Dilirik Dunia

Pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero) mencuri perhatian delegasi yang berkunjung ke Indonesia Pavilion di Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali.
M. Nurhadi Pratomo | 10 Oktober 2018 17:55 WIB
Pesawat N219 ditarik menuju hangar, seusai melakukan uji terbang untuk ke-15 kalinya di landasan pacu PT Dirgantara Indonesia (Persero), di Bandung, Jawa Barat, Jumat (2/2). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, NUSA DUA — Pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero) mencuri perhatian delegasi yang berkunjung ke Indonesia Pavilion di Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali.
 
Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro mengungkapkan delegasi Madagaskar, Kongo, Norwegia, dan Sudan tertarik dengan pesawat CN235 yang dipajang oleh perseroan di Indonesia Pavilion. Menurutnya, sejumlah pihak melakukan penjajakan untuk memesan pesawat buatan dalam negeri tersebut.
 
“Menteri Madagaskar tanya, Kongo tanya, Norwegia tanya, jadi banyak yang menjajaki,” ujar Elfien di sela-sela Annual Meeting IMF-World Bank Group 2018, Rabu (10/10/2018).
 
Dia mengatakan sejauh ini pihaknya telah mengekspor 48 pesawat dari total 431 pesawat yang diproduksi. Negara-negara yang menjadi tujuan di antaranya Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan Turki.
 
Untuk 2019, perseroan ditargetkan mengirim empat unit pesawat. Secara detail, pengiriman akan dilakukan ke Senegal sebanyak 1 unit, Nepal 1 unit, dan Thailand 2 unit.
 
Elfien menyebut kapasitas produksi PTDI saat ini sebanyak 10 unit per tahun. Oleh karena itu, pihaknya ingin menambah jumlah pesawat yang dihasilkan tiap tahunnya.
 
Rencananya, perusahaan pelat merah itu ingin membuat lini produksi sendiri untuk pesawat N219. Dengan fasilitas yang dimiliki saat ini, penambahan produksi maksimal mencapai enam unit per tahun.
 
“Kalau ingin 36 pesawat atau 60 pesawat, kami harus menambah pabrik baru,” jelasnya.
 
Untuk memuluskan rencana tersebut, perseroan membutuhan dana investasi antara US$90 juta-US$100 juta. Saat ini, PTDI tengah mengkaji berbagai opsi pendanaan, baik pinjaman lunak maupun pendanaan dari pasar modal.
 
Secara terpisah, Direktur Pelaksana International Monetery Fund (IMF) Christine Lagarde mengaku sangat terkesan melihat perkembangan industri strategis, pariwisata, dan teknologi finansial Indonesia. Hal tersebut diutarakannya ketika mengunjungi Indonesia Pavilion.
 
“Saya senang Indonesia bisa membangun pesawat sendiri dan bisa mengekspornya ke luar dengan menggunakan material sendiri,” paparnya.
 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top