BANK BTN Dorong Generasi Milenial Jadi Pengusaha Properti

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mendorong generasi milenial untuk menjadi pengusaha properti melalui program edukasi kepada mahasiswa dan pelajar di berbagai kampus dan sekolah di Indonesia.
Ilman A. Sudarwan | 21 Oktober 2018 19:35 WIB
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk Maryono (kiri), Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) B. Didik Prasetyo (kanan), disaksikan Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro bersiap menandatangani nota kesepahaman tentang layanan jasa perbankan di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. mendorong generasi milenial untuk menjadi pengusaha properti melalui program edukasi kepada mahasiswa dan pelajar di berbagai kampus dan sekolah di Indonesia.

Direktur Utama BTN Maryono memaparkan, kehadiran generasi milenial di industri properti sangat dibuthkan karena mereka dinilai dapat menawarkan inovasi untuk pengembangan produk, baik dari pemasaran hingga akses pembiayaan.

Dalam workshop ‘Property Entrepreneurship for Millenials Generation’ di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, dia mengatakan bahwa untuk mengajak milenial ikut terjun menggarap bisnis properti, generasi muda perlu diedukasi mengenai potensi besar bisnis properti.

Potensi yang baik tersebut tumbuh seiring dengan maraknya pembangunan infrastruktur dan perkembangan transportasi massal yang menjangkau daerah pelosok hingga berbagai kota besar di seluruh Indonesia.

“Kehadiran BTN di kampus, berdirinya Housing Finance Center untuk memberikan workshop, pelatihan dan pengembangan merupakan salah satu strategi kami meningkatkan jumlah pengusaha properti serta kualitas para developer,” jelas Maryono melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Minggu (21/10/2018). 

Alasan

Maryono menuturkan, ada sejumlah alasan mengapa menjadi pengusaha properti menarik bagi milenial, yakni  ketersediaan lahan yang terbatas membuat investor memegang kontrol, daya juang ketika berinvestasi sangat tinggi, serta nilai aset dapat ditingkatkan dengan modal minimum.

Selain itu, dia mengatakan bahwa bisnis properti juga akan menghasilkan capital gain dan cashflow yang baik, tidak menyita waktu, bank lebih suka memberikan pinjaman dengan jaminan properti, dan investasi properti menjadi favorit investor besar.

Berdasarkan peringkat Top Cities for Real Estate Investment tahun 2018 dari PriceWaterhouse Coopers (PwC), Jakarta menempati urutan kelima setelah Bangalore, Bangkok, Guangzhou dan Ho Chi Minh City.

“Artinya, banyak investasi yang mengalir ke Jakarta, tapi tidak menutup kemungkinan kota besar lainnya di Indonesia juga berkembang dan menarik investasi properti karena sejumlah faktor diantaranya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan rumah lewat program sejuta rumah, pertumbuhan jumlah penduduk, perkembangan infrastruktur dan digitalisasi di dunia bisnis yang makin efisien,” paparnya.

Maryono mengatakan, ketertarikannya mengajak generasi milenial menjadi pengusaha properti, karena mereka diproyeksi menjadi tulang punggung ekonomi bangsa yang menentukan masa depan. Untuk itu, Maryono berharap generasi milenial dapat melirik bisnis properti.

Dalam catatan BTN, lanjutnya, selisih kebutuhan rumah dengan kapasitas pengembang masih lebar di Indonesia. Adapun, kebutuhan rumah masih besar mencapai 800.000 unit per tahun, sementara kapasitas pembangunan rumah para pengembang hanya 250.000—400.000 unit per tahun.

Minimnya pasokan membuat daya dorong sektor perumahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2017 hanya mencapai 2,8 persen. Angka ini lebih rendah dari negara tetangga seperti Malaysia yang mencapai lebih dari 20% atau Thailand yang mencapai 8%. 

“Padahal jika investasi properti meningkat kebutuhan rumah masyarakat terpenuhi dan setidaknya 170 industri turunan lainnya ikut terdongkrak dan banyak lapangan pekerjaan berkembang yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Sisi supply dan demand dalam bisnis properti harus diperhatikan. Dengan demikian, perseroan tidak hanya ingin mengembangkan pembiayaan perumahan untuk menangkap permintaan, namun juga memperhatikan sisi pasokan. 

Bank BTN merangkul pengembang dengan pemberian kredit properti dan konstruksi dan pengembangan jumlah wirausaha. Jumlah wirausaha di Indonesia berdasarkan data Kementerian Koperasi  dan  UMKM tergolong minim yaitu sebesar 7,8 juta orang dari sekitar 252 juta orang penduduk Indonesia.

Dengan jumlah tersebut, Global Entrepreneurship index tahun 2018 menempatkan Indonesia di posisi 94 dari 137 negara, di bawah Malaysia di urutan 58 dan Thailand di urutan 71. Indonesia juga tertinggal jauh dari Singapura yang duduk di urutan 27.

Tag : btn, properti
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top