Big Data Analytics Optimalkan Implementasi Program Jaminan Kesehatan

Big data dinilai dapat membantu mengoptimalkan penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan - Kartu Indonesia Sehat. 
Dika Irawan | 07 November 2018 12:48 WIB
Presiden Joko Widodo memberikan penjelasan seputar Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) di Balai Desa Asrikaton Pakis Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (21/5/2015). - JIBI/Mohammad Sofii

Bisnis.com, JAKARTA - Big data dinilai dapat membantu mengoptimalkan penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan - Kartu Indonesia Sehat. 

“Big data analytics ini telah membuka era baru untuk meningkatkan layanan dan menyelesaikan masalah di bidang kesehatan. Banyak institusi pelayanan kesehatan dan berbagai negara yang telah melakukan ujicoba pemanfaatan big data analytics, serta berhasil memecahkan masalah dasar dalam penyelenggaraan jaminan kesehatan. Seperti mengurangi re-admisi, meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan, serta meningkatkan mutu pelayanan,” kata Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris dalam acara seminar internasional bertema Big Data Analysis for Improving Health Policy, Rabu (07/11).

Meski demikian, lanjut Fachmi, ada sejumlah faktor yang perlu dipertimbangkan secara matang dalam menggunakan big data analytics untuk pelayanan kesehatan. Menurutnya, big data harus disiapkan secara sistematis dan dan berkualitas baik. Hasilnya pun harus dikaji oleh para pakar dengan keahlian profesi yang bervariasi sehingga dapat menciptakan kesatuan pemahaman yang komprehensif. 

Pada kesempatan itu, Fachmi menyambut hangat kehadiran para pembicara dari The National Health Service (NHS) England, National Health Insurance Service (NHIS) South Korea, dan National Health Insurance Scheme (NHIS) Ghana.

Di Inggris, utilisasi big data telah dikembangkan NHS menjadi lebih kompleks dalam sebuah machine learning yang melibatkan peran serta pasien, praktisi, peneliti, fasilitas kesehatan, hingga pembuat kebijakan. 

Contoh lainnya, sejak 2000, NHIS menghimpun setidaknya 3,4 triliun data yang mencakup nama, alamat, pendapatan, aset, riwayat medis, dan informasi lainnya yang diperoleh dari kantor layanan pajak, kementerian, penyedia layanan bagi pensiunan, hingga lembaga yang menaungi kesejahteraan pekerja. 

Sementara di Ghana, big data dimanfaatkan oleh NHIS Ghana salah satunya dalam upaya pengendalian tuberkulosis. Pemanfaatan big data tersebut antara lain untuk mengukur secara klinis efektivitas intervensi, manajemen pengadaan obat, beban penyakit, audit klinis, dan sebagainya. 

“Kami harapkan, seminar ini dapat memberikan ruang untuk bertukar gagasan dan menggali lebih dalam optimalisasi big data untuk penyelenggaraan program 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kartu Indonesia Sehat

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top