Edukasi Duit: Jangan Tunda Investasi

Saya seringkali berbincang dengan para pengembang properti, baik itu yang membangun rumah tapak ataupun apartemen. Seringkali memang yang mereka keluhkan soal produk yang ditawarkan tidak laku.
News Writer
News Writer - Bisnis.com 06 Desember 2018  |  12:57 WIB
Edukasi Duit: Jangan Tunda Investasi
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis/swi

Bisnis.com, JAKARTA — Saya seringkali berbincang dengan para pengembang properti, baik itu yang membangun rumah tapak ataupun apartemen. Seringkali memang yang mereka keluhkan soal produk yang ditawarkan tidak laku.

Tidak laku dalam bisnis properti itu bisa banyak hal. Bisa lokasinya yang tidak strategis atau harga yang kurang cocok di kantong pembeli.

Akan tetapi, yang banyak dikeluhkan sebenarnya lebih karena konsumen menunda pembelian. Menunda membeli itu bukan berarti daya belinya turun. Bukan. Menunda pertimbangannya banyak hal. Situasi politik seringkali yang menjadi alasan.

Munculnya banyak gerakan sosial di masyarakat, aksi A, gerakan B, dukungan untuk C, dan lainnya, rupanya turut mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihannya. Sebagian ada yang merasa trauma dengan kondisi krisis ekonomi 1998 yang dibarengi dengan kerusuhan.

Padahal, dalam pandangan saya, Indonesia sekarang ini jauh dari ancaman krisis ekonomi. Justru sekarang ini adalah tahun kebangkitan ekonomi Indonesia.  

Coba perhatikan sudah 10 tahun ini Indonesia mengalami booming.  Jumlah pusat belanja Carrefour di Indonesia itu melebihi jumlahnya di Taiwan, di Seoul,  di Malaysia di Bangkok,  dll. Bisa disebut, Indonesia masuk ke dalam top 10 negara-negara dengan Carrefour terbanyak.  

Belum lagi pasar sepeda motor Indonesia itu jumlahnya per tahun sama dengan penduduknya Taiwan dan Hong Kong kalau keduanya digabung.  Ibarat bayangkan penduduk Taiwan tua muda bayi dan anak-anak beli motor baru tiap tahun.  Itulah bayangkan betapa besar daya beli konsumen Indonesia.  

Jumlahnya apartemen di Jakarta itu sudah over suplai 36.000 unit pada 2017. Daerah sekitar saya tinggal seperti Serpong saja over suplai jumlahnya 55.000 unit. 

Ini belum masuk jumlahnya apartemen di Surabaya, pusatnya orang kaya yang lebih tren dengan sebuta crazy rich. 

Jumlahnya suplai kamar hotel bintang tiga ke atas jumlahnya terus naik.  Memang okupansi rate atau tingkat hunian hotel menurun sejak 2014 ke atas namun pada 2018 okupansi rate sudah kembali ke level 2014. 

Jumlahnya pengunjung mal mengalami shifting atau pergeseran. Dulu parkir motor di luar mal jauh dari lobi.  Sekarang parkir motor dibangun gedung bertumpuk dua tingkat khusus untuk motor. 

Pengunjung food court membludak dengan sepeda motor.  Artinya GDP Indonesia sekarang sudah masuk OTDC (one trillion dollars country). 

Dengan demikian indikator ekonomi Indonesia bagus.  Mengapa penjualan sebagian besar produk-produk di Indonesia menurun?  Masyarakat mengalami low trust situation

Kepercayaan pasar menurun.  Berbagai isu politik yang muncul belakangan turut berkontribusi. Efek terbesar adalah kecemasan di masyarakat.  Makanya orang menunggu. Kalau bisa, beli apapun atau investasi apapun, dilakukan setelah pilpres.  

Masalahnya adalah apa yang terjadi bilamana semuanya menunda?  Terjadi oversuplai apartemen di 2018. Akibatnya terjadi penumpukan suplai dan pada saat setelahnya pilpres terjadi pertarungan perang harga.  Berapa pemborosan biaya yang muncul? 

Diagnosis ini membutuhkan solusi instan solusi cespleng karena,  toh bilamana konsumen menunda timing investasi,  akibatnya merugikan diri sendiri.  Bayangkan harga-harga properti sudah naik 10% pada 2018 belum lagi setelahnya pilpres.  Harga-harga naik terus.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri Money Intelligent, New Money, dan New Money: Riba Siapa Bilang?

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, Edukasi Duit

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top