Andalkan Kredit Korporasi, Laba Bank Milik Chairul Tanjung ini Naik 23%

Pertumbuhan kredit dua digit dan penurunan biaya pencadangan menjadi kontributor utama yang membuat laba PT Bank Mega Tbk. terdongkrak pada 2018.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  19:58 WIB
Andalkan Kredit Korporasi, Laba Bank Milik Chairul Tanjung ini Naik 23%
Chairul Tanjung - bankmega.com

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan kredit dua digit dan penurunan biaya pencadangan menjadi kontributor utama yang membuat laba PT Bank Mega Tbk. terdongkrak pada 2018.

Dalam laporan tahunan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib menyatakan sepanjang 2018 perseroan mencetak laba bersih Rp1,6 triliun. Realisasi itu tumbuh 23% dibandingkan dengan 2017.

“Peningkatan laba bersih diperoleh dari kenaikan pendapatan bunga bersih yang disebabkan pertumbuhan kredit dan penurunan biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp484 miliar atau 57% dibandingkan biaya CKPN 2017, hasil dari semakin baiknya kualitas aktiva produktif,” katanya seperti dikutip Bisnis, Kamis (7/2/2019).

Bank yang terafilitasi dengan  korporasi PT CT Corpora milik pengusaha Chairul Tanjung itu tercatat menyalurkan total kredit Rp42,25 triliun, tumbuh 19,96% secara year on year (YoY) dari tahun 2017 sebesar Rp35,22 triliun.

Penopang kenaikan kredit yakni segmen korporasi yang memiliki porsi terbesar yakni 36,07%, disusul oleh joint financing atau sindikasi sebesar 31,68%.

Kostaman menambahkan pertumbuhan kredit dibarengi dengan perbaikan kualitas kredit yang membuat biaya pencadangan turun signifikan. Adapun rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross tercatat turun dari 2,01% menjadi 1,6% pada akhir tahun lalu.

Dari sisi pendanaan, jumlah dana pihak ketiga Bank Mega justru mengalami penurunan tipis sebesar 0,89% (YoY) yakni dari Rp61,28 triliun menjadi Rp60,74 triliun.

“Hal ini akibat strategi Bank Mega yang menyelaraskan  pertumbuhan dana pihak ketiga dengan pertumbuhan kredit yang diberikan dengan tetap memperhatikan likuiditas,” katanya.

Bank Mega menjaga biaya dana DPK dengan cara lebih selektif menerima dana mahal deposito dan lebih menggenjot dana murah. Dana tabungan tumbuh 7,93% (YoY) menjadi Rp11,79 triliun yang didukung berbagai program promosi. Secara keseluruhan posisi loan to deposit ratio (LDR) perseroan meningkat dari 56,47% menjadi 67,23%.

Rasio-rasio keuangan lainnya, kata Kostaman, masih terjaga di level yang positif. Rasio return on equity (ROE) misalnya meningkat dari 11,66% menjadi 13,76% sejalan dengan kenaikan laba. Rasio kecukupan permodalan (capital adequacy ratio/CAR) Bank Mega sebesar 22,79% dan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) turun dari 81,28% menjadi 77,78%.

Sementara itu, total aset Bank Mega per akhir 2018 mencapai Rp83,76 triliun tumbuh 1,78% dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar Rp82,30 triliun.

Bank Mega membidik pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2019. Kostaman menyatakan perseroan akan tetap fokus pada segmen korporasi dan joint finance, fokus pada pembiayaan sindikasi dan BUMN, serta sektor-sektor usaha yang diproyeksikan mengalami pertumbuhan.

Adapun untuk  bisnis kartu kredit yang juga merupakan andalan perseroan, Bank Mega akan meningkatkan sinergi dengan anak-anak usaha PT CT Corpora. Selain kenaikan jumlah pemegang kartu, Bank Mega juga membidik kenaikan transaksi kartu kredit.

Sinergi dengan jaringan CT Corp, kata Kostaman, juga akan mampu memberikan keuntungan dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga. “Kami akan menyeimbangkan pertumbuhan DPK dengan pertumbuhan kredit, dengan fokus pertumbuhan dana murah melalui akuisisi segmen nasabah Mega First dan Upper Mass.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank mega

Editor : Fahmi Achmad

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top