Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investree Perluas Sektor Pembiayaan Tagihan

PT Investree Radhika Jaya (Investree) berencana terus mengembangkan jangkauan produk pembiayaan tagihan atau invoice financing dengan memperluas sektor yang akan dibiayai.
Ketua Umum Asosiasi Pendanaan Fintech Bersama Indonesia yang juga  CEO Investree Adrian A Gunadi, memberikan penjelasan pada diskusi Digital Economic Forum di Jakarta, Kamis (28/3/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan
Ketua Umum Asosiasi Pendanaan Fintech Bersama Indonesia yang juga CEO Investree Adrian A Gunadi, memberikan penjelasan pada diskusi Digital Economic Forum di Jakarta, Kamis (28/3/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA— PT Investree Radhika Jaya (Investree) berencana terus mengembangkan jangkauan produk pembiayaan tagihan atau invoice financing dengan memperluas sektor yang akan dibiayai.

Adrian Gunadi, CEO & Co-Founder Investree, mengatakan bahwa pengembangan bisnis pembiayaan tahihan akan diperluas ke sejumlah sejumlah sektor, termasuk logistik, telekomunikasi dan food and beverage. Pada tahun ini, Investree akan kembali mengembangkan produk tersebut dan masuk ke sejumlah segmen baru.

Sebelumnya, Investree telah menggarap bisnis pembiayaan tagihan dengan fokus kepada industri media seperti production house, digital agency, event organizer dan sebagainya.

 “Segmen itu [media] masih dominan, sekitar 20%–25% dari portofolio. Tetapi saat ini sudah cukup beragam dan tahun ini kami juga akan masuk ke segmen BUMN, serta ada beberapa inisiatif,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (8/4/2019).

Adrian mengatakan pihaknya sudah menjalankan layanan ini sejak mulai beroperasi pada 2015 karena potensinya memang besar. Bahkan pembiayaan tagihan menjadi produk perdana Investree.

Setelah credit scoring berkembang, Investree kemudian masuk ke jenis pembiayaan lainnya. Hingga saat ini, menurut Adrian, produk pembiayaan tagihan baik yang konvensional maupun syariah masih berkontribusi hingga kisaran 90% bagi portofolio pembiayaan Investree yang tercatat telah mencapai Rp2,2 triliun.

Di samping potensinya, mitigasi risiko untuk produk ini juga terbilang baik. “Kami hampir jalan 3 tahun dengan produk ini dan tingkat kredit macet masih nol,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper