Mana yang Paling Cuan, Reksa Dana, Deposito, Emas, Saham, atau Obligasi?

Investasi  telah  menjadi  keniscayaan  bagi  sebagian  orang yang  telah  memiliki  penghasilan. nTujuannya jelas yakni untuk mendapatkan tambahan keuntungan serta sebagai dana cadangan. Intinya, dengan investasi, keuangan setiap orang diharapkan bisa lebih produktif dan sehat.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 14 Juli 2019  |  07:31 WIB
Mana yang Paling Cuan, Reksa Dana, Deposito, Emas, Saham, atau Obligasi?
emas antam

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi  telah  menjadi  keniscayaan  bagi  sebagian  orang yang  telah  memiliki  penghasilan.

Tujuannya jelas yakni untuk mendapatkan tambahan keuntungan serta sebagai dana cadangan. Intinya, dengan investasi, keuangan setiap orang diharapkan bisa lebih produktif dan sehat.

Namun, untuk dapat menikmati keuntungan dalam berinvestasi, tentunya kita perlu mengetahui karakteristik setiap instrumen investasi agar dapat mencapai tujuan keuangan yang diinginkan.

Bahkan, para perencana keuangan selalu menegaskan untuk menyesuaikan jenis investasi yang dipilih dengan keperluan atau tujuan akhir dari kondisi keuangan yang diidamkan.

Berikut ini, karakteristik dan penjelasan singkat dari beberapa instrumen investasi yang umumnya ditekuni oleh masyarakat Indonesia, khususnya para pemula dalam hal berinvestasi.

REKSA DANA

Berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal No. 8/1995, reksa dana adalah wadah yang menghimpun dana masyarakat untuk diinvestasikan kembali oleh manajer investasi. Artinya, uang yang diberikan dari investor akan diputar untuk keperluan tertentu dan hasil keuntungannya diberikan lagi kepada investor.

CEO Bareksa.com Karaniya Dharmasaputra mengatakan bahwa produk investasi reksa dana sangat cocok bagi tipe investor yang punya banyak keterbatasan, seperti waktu, informasi, dan akses untuk melakukan pembelian produk.

“Bagi investor pemula, instrumen investasi reksa dana merupakan yang paling banyak dilirik karena proses yang lebih mudah dan produk yang cukup beragam,” katanya.

DEPOSITO

CEO Finansialku Melvin Mumpuni menjelaskan deposito merupakan poduk simpanan di bank yang penyetorannya maupun penarikannya hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja, biasanya berkisar antara 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, hingga 1 tahun.

Menurutnya, deposito merupakan instrumen yang relatif aman karena hampir tidak ada risiko penurunan jumlah atau kerugian. Skenario terburuk dari jenis instrumen ini adalah bunga yang terus mengecil.

Suku bunga yang ditawarkan deposito berkisar antara 5% hingga 8% per tahun. Akan tetapi, jumlah tersebut belum termasuk potongan pajak yang dikenakan dari bank kepada investor yang jumlahnya berbeda-beda setiap institusi.

EMAS

Instrumen investasi ini tampaknya menjadi salah satu yang paling banyak dipilih oleh masyarakat Indonesia, didorong oleh tradisi turun-temurun untuk membeli emas, khususnya pada momen-momen tertentu seperti Lebaran.

Melvin sendiri mengatakan bahwa emas merupakan instrumen yang sangat cocok untuk digunakan sebagai dana darurat. Pasalnya, produk ini bisa dijual sewaktu-waktu secara langsung dan memiliki kecenderungan harga yang terus naik meskipun sangat kecil.

Berdasarkan situs web Finansialku, keuntungan dari emas sebagai investasi itu sendiri cenderung kecil hanya sekitar 2% hingga 4% per tahun. Instrumen ini disarankan bagi investor pemula, ditambah dengan perkembangan teknologi yang memudahkan orang untuk membeli dan menjual emas yang dimiliki.

“Bagi saya emas lebih cocok dikategorikan sebagai dana darurat, ini juga hal penting dalam perencanaan keuangan karena kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan,” ujarnya.

SAHAM

Barangkali, saham merupakan instrumen investasi yang paling menggiurkan di kalangan masyarakat. Saham sendiri berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai bukti pemilikan bagian modal perseroan terbatas yang memberi hak atas dividen dan lain-lain menurut besar kecilnya modal yang disetor.

Secara teknis, membeli saham di bursa berarti kita telah membeli sekian persen kepemilikan perusahaan yang menjual sahamnya. Implikasinya, perusahaan tersebut akan membagikan keuntungan yang didapatkan kepada para pemegang saham.

Perencana keuangan OneShildt Financial Planning Budi Raharjo menyebut saham sebagai instrumen investasi dengan karakter high risk high return, atau jenis investasi yang memiliki risiko besar sekaligus potensi keuntungan yang besar.

“Bisa dibilang saham merupakan instrumen investasi untuk para investor yang sudah paham betul, tetapi bukan berarti pemula enggak bisa terjun di sini. Bisa saja melalui broker saham, tetapi perlu dipelajari betul terlebih dahulu,” ujarnya.

OBLIGASI

Obligasi merupakan instrumen investasi berupa surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan maupun pemerintah sebagai bentuk peminjaman uang dan janji untuk membayar kembali sejumlah harga pokok utang beserta bunganya.

Budi mengatakan bahwa obligasi merupakan salah satu instrumen investasi yang memiliki risiko sangat rendah, utamanya adalah obligasi yang dikeluarkan oleh pemerintah karena relatif tidak mungkin gagal bayar dibandingkan dengan perusahaan.

Selain instrumen investasi yang telah disebutkan di atas, masih ada beberapa jenis instrumen investasi lain seperti mata uang kripto (cryptocurrency) serta investasi tanah dan properti.

Pada akhirnya, para perencana keuangan selalu menegaskan bahwa investor perlu untuk terlebih dahulu mempelajari setiap instrumen investasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan. Apakah perlu mendapatkan keuntungan cepat atau bertahap dalam waktu tertentu.

Selain itu, disarankan juga untuk terus menambah portofolio investasi yang dimiliki, “Sebaiknya terus lakukan diversifikasi jenis investasi. Lebih bervariasi akan lebih baik,” katanya.

*) Artikel dimuat dalam Bisnis Indonesia Weekend edisi 14 Juli 2019

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham, investasi, Obligasi, Harga Emas Hari Ini

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup