Gagal Bayar Kredit, Benarkah Duniatex Terpapar Perang Dagang?

Kepada Bisnis, salah seorang bankir senior mengaku telah beberapa kali mendapatkan permintaan kredit dari kelompok usaha Duniatex, konglomerasi perusahaan tekstil yang berkantor pusat di Karanganyar, Jawa Tengah.
Hendri T. Asworo & Muhammad Khadafi
Hendri T. Asworo & Muhammad Khadafi - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  09:06 WIB
Gagal Bayar Kredit, Benarkah Duniatex Terpapar Perang Dagang?
Repro - duniatex.com

Bisnis, JAKARTA - Kepada Bisnis, salah seorang bankir senior mengaku telah beberapa kali mendapatkan permintaan kredit dari kelompok usaha Duniatex, konglomerasi perusahaan tekstil yang berkantor pusat di Karanganyar, Jawa Tengah.

Hanya saja, permintaan kredit perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Hartono pada 1974 itu tak pernah disanggupi.

Ketika dikejar lebih jauh perihal latar belakang yang membuat dia tak memberikan kredit kepada Duniatex, bankir tersebut tak bersedia menjelaskan.

Namun, cerita ini membuka fakta baru lainnya di balik kasus gagal bayar angsuran kredit anak usaha Duniatex kepada perbankan.

Seperti diketahui, pada pekan lalu, PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT), anak usaha Duniatex Group, membuat heboh pelaku pasar modal karena peringkat obligasi dolar AS dipangkas oleh lembaga pemeringkat utang S&P Global Ratings.

S&P memangkas peringkat obligasi DMDT menjadi CCC- atau tidak layak dikoleksi. Padahal, 4 bulan sebelumnya, saat obligasi senilai US$300 juta akan diterbitkan, S&P memberikan peringkat BB-.

S&P menyebutkan alasan pemangkasan peringkat surat utang DMDT sebagai imbas dari perang dagang Amerika Serikat dan China.  

“Ketegangan perdagangan AS–China yang sedang berlangsung, secara signifikan merugikan pasar tekstil Indonesia,” tulis S&P, seperti dikutip dari Bloomberg, pekan lalu.

Fitch Ratings, yang juga memeringkat surat utang tersebut, ikut memangkas skor obligasi DMDT menjadi B- dari sebelumnya BB-.

Namun, bankir senior yang mengetahui prahara Duniatex Group sehingga berbuntut gagal bayar kredit tersebut tidak sependapat dengan S&P.

“Mereka gagal [bayar] bukan karena perang dagang. Itu enggak berdasar,” ujarnya, Selasa (23/7).

Duniatex Group sendiri telah meluruskan kabar mengenai gagal bayar obligasi. Seperti dikutip Bloomberg, Managing Director Duniatex Group Samuel Hartono mengungkapkan bahwa bukan DMDT yang gagal bayar obligasi atau angsuran kredit. 

Pemangkasan peringkat surat utang disebabkan oleh PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST), anak usaha lain milik Duniatex, yang gagal membayar angsuran kredit kepada kreditur senilai US$11 juta pada 10 Juli lalu.

Dia menyatakan bahwa Duniatex memiliki cukup likuiditas dari arus kas untuk operasional usaha, sedangkan dana dari penerbitan obligasi dipakai untuk melunasi utang bank, termasuk sindikasi kredit dalam dolar AS.

Namun, Samuel membenarkan bahwa pihaknya menunjuk konsultan untuk merestrukturisasi kredit. “AJ Capital ditunjuk untuk menilai struktur modal dan arus kas terhadap sejumlah anak usaha,” ujarnya.

Seperti diberitakan Bisnis, Selasa (23/7), gagal bayar angsuran tersebut membuat sejumlah bank melakukan restrukturisasi kredit Duniatex. Dikabarkan utang Duniatex mencapai Rp17 triliun yang dikucurkan lebih dari 20 kreditur.

Sejumlah krediturnya, seperti Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Indonesia Eximbank dengan nilai terbesar sekitar Rp3 triliun, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. senilai Rp2,2 triliun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar Rp1 triliun, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. sebesar Rp459 miliar.

Riset JP Morgan mengonfirmasi bahwa sedikitnya ada 10 bank yang menjadi kreditur anak usaha Duniatex Group, DMDT. Selain empat bank di atas, ada juga PT Bank Panin Syariah Tbk., PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah, PT Bank Rabobank International, PT Bank Pembangunan Daerah BantenTbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Nationalnobu Tbk.

Total kredit yang disalurkan oleh sejumlah bank tersebut lebih dari Rp10 triliun. Sebanyak 58% di antaranya merupakan kredit sindikasi. Bahkan, JP Morgan memperkirakan Duniatex Group memiliki pinjaman jauh lebih besar dibandingkan dengan anak usahanya, DMDT.

BNI mengaku tengah memitigasi risiko kredit kepada anak usaha Duniatex Group yang berpotensi masuk dalam kategori kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Direktur Manajemen Risiko BNI Bob Tyasika Ananta mengatakan bahwa kredit kepada anak usaha Duniatex yang bergerak pada bidang tekstil saat ini sebesar Rp459 miliar.

“Spesifik itu sindikasi Rp301 miliar dan juga ada bilateral sekitar Rp158 miliar, jadi total itu Rp459 miliar,” katanya usai paparan kinerja semester I/2019 di kantor pusat BNI, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Corporate Secretary Indonesia Eximbank Emalia Tisnamisastra menuturkan bahwa saat ini manajemen masih melakukan proses konsolidasi dengan kreditur lainnya.

“Kami melakukan konsolidasi mengenai langkah-langkah penyelesaian [restrukturisasi Duniatex] yang akan diambil,” ujarnya.

Sementara itu, PT Bank BRI Syariah tengah mendiskusikan rencana restrukturisasi kredit kepada anak usaha Duniatex Group. Sejauh ini, DMDT belum memiliki tunggakan margin atau pokok.

"Kalau kita lihat, usaha saat ini masih berjalan normal. Mitigasi risikonya kita akan melakukan restrukturisasi berdasarkan cash flow perusahaan," kata Direktur Bisnis Komersil BRI Syariah Kokok Alun Akbar kepada Bisnis, Selasa (23/7).

Namun, dia tidak membantah bahwa saat ini BRI Syariah memiliki kredit sebesar Rp280 miliar. Angka tersebut diperoleh dari riset yang dilakukan J.P. Morgan belum lama ini.

SEPAK TERJANG DUNIATEX

Nama Duniatex memang tidak asing di sektor pertekstilan. Namun, berdasarkan catatan Bisnis, pada 2011 Duniatex mulai melebarkan sayap bisnis ke sektor properti dan perhotelan dengan mendirikan PT Delta Merlin Dunia Propertindo.

Menurut salah satu bankir senior, Duniatex masuk ke sektor properti bermodalkan aset-aset yang dibeli dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Aset-aset tersebut milik bank yang direkapitulasi oleh BPPN.

“Ya dulu kan Duniatex banyak membeli aset-aset bank yang dilelang oleh BPPN. Nah, sekarang bakal diambil alih oleh bank lagi, kalau sampai gagal bayar,” ujarnya bankir yang juga berasal dari Solo ini kepada Bisnis, Selasa (23/7).

Adapun, aset properti dan perhotelan yang dimiliki oleh Duniatex adalah Bestwestern Solo Baru, Noorman Hotel Semarang, Favehotel Solo, The Alana Hotel Solo, Hartono Trade Center, Hartono Mal di Solo dan Yoyakarta, Hotel Marriot Yogyakarta, De Salvatore Art & Boutique Yogyakarta, De Rivier Hotel Jakarta Barat, dan Wisma Hartono Yogyakarta.

Selain itu, Duniatex juga masuk ke bisnis rumah sakit, yakni RS Indriati. Rumah sakit ini menggunakan nama istri Hartono, Indriati.

Menurut bankir tersebut, keluarga Hartono juga memiliki lini bisnis di bank perkreditan rakyat dan perusahaan pembiayaan. “Mereka juga memiliki BPR dan perusahaan pembiayaan,” ujarnya.

Kemarin, Bisnis mencoba menghubungi Humas Duniatex Intan Saraswati untuk mengetahui kelanjutan penyelesaian utang perusahaan tersebut, tetapi dia tidak merespons.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
duniatex

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top