PNBS Minimalisir Kerugian dengan Restrukturisasi Pinjaman Duniatex

PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk. (PNBS) menyalurkan pembiayaan sebesar Rp262,9 miliar kepada Duniatex Grup. Saat ini pinjaman tersebut tengah dalam proses restrukturisasi.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  18:26 WIB
PNBS Minimalisir Kerugian dengan Restrukturisasi Pinjaman Duniatex
Repro - duniatex.com

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk. (PNBS) menyalurkan pembiayaan sebesar Rp262,9 miliar kepada Duniatex Grup. Saat ini pinjaman tersebut tengah dalam proses restrukturisasi.

“Ya, akan dilakukan restrukturisasi. Potensi kerugian dapat diminimalisir dengan adanya restrukturisasi tersebut,” demikian Bisnis mengutip keterbukaan informasi yang ditandatangai oleh Direktur PNBS Budi Prakoso dan Direktur PNBS Doddy Permadi Syarief, Kamis (25/7/2019).

PNBS menyebutkan bahwa gagal bayar kupon obligasi global Duniatex berdampak pada kemampuan perusahaan memenui kewajiban kepada anak usaha PT Bank Pan Indonesia Tbk. Namun perseroan yakin dengan restrukturisasi tidak akan berdampak pada rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF), rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR), dan kondisi likuiditas.

PNBS saat ini tercatat menguasai jaminan berupa tanah dan bangunan milik Duniatex. Agunan tersebut senilai 141% dari total pembiayaan yang disalurkan.

Seperti diketahui, PNBS saat ini tengah berupaya untuk memangkas pembiayaan berkualitas buruh. Pada kuartal I/2019, perusahan menekan rasio NPF kotor menjadi 5,00%. Pada periode yang sama tahun lalu rasio NPF sebesar 11,28%.

Selain berkejaran dengan kewajiban memperbaiki kualitas aset, PNBS juga tercatat dalam kondisi likuiditas mengetat. Per Maret 2019 rasio pembiayaan terhadap simpanan (financing to deposit ratio/FDR) mencapai 98,87%, naik dari Maret 2018 87,90%.

Adapun tidak hanya PNBS bank yang tengah dalam kondisi perbaikan kualitas aset yang masuk dalam daftar pemberi pinjaman kepada Duniatex. J.P Morgan mencatat setidaknya ada 10 bank yang menjadi kreditur anak usaha Duniatex Group, PT Duta Merlin Dunia Tekstil (DMDT).

Seperti di antaranya PT Bank Muamat Indonesia Tbk. yang disebut-sebut memiliki total pendanaan jangka pendek sebesar Rp124,8 miliar. Saat ini bank syariah tertua tengah berurusan dengan perbaikan kinerja akibat membengkaknya pembiayaan bermasalah.

Begitu pula dengan PT Bank BRI Syariah Tbk. yang berdasarkan laporan publikasi, memiliki rasio NPF bersih BRI Syariah per Maret 2019 sebesar 4,34%, naik dari Maret 2018, 4,10%. NPF kotor pun mengalami kenaikan dari 4,92% menjadi 5,68%.

Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. itu berupaya memitigasi risiko dari penyaluran dana kepada Duniatex. Perusahaan telah berdiskusi untuk merestrukturisasi utang dengan melakukan penjadwalan angsuran pokok ditambah bagi hasil yang disesuaikan dengan kemampuan perusahaan.

“Tentunya dengan tetap mempertimbangkan yield minimal yang dapat diterima oleh Bank. Misal semula pembiayaan modal kerja jangka pendek 1 tahun kita jadwalkan menjadi 3 atau sampai 5 tahun sesuai dengan kemampuan perusahaan,” katanya.

Sementara itu Direktur Group Risiko dan Perekonomian dan Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Doddy Ariefianto menilai dampak potensi gagal bayar Duniatex seharusnya dapat diserap oleh perbankan, termasuk juga yang tengah bermasalah dengan kualitas aset. “Bank yang kena sudah buat provisi yang akan dihapus, jadi dampaknya tidak mengubah peroyeksi,” katanya.

Adapun sebelumnya Fitch Rating memperkirakan DMDT tidak akan memiliki cukup uang untuk melunasi utang yang akan jatuh tempo pada kuartal III/2019. Per 31 Maret 2019, DMDT memiliki uang tunai sekitar Rp700 miliar, sedangkan perusahaan memiliki kewajiban membayar bunga obligasi dan pinjaman bank sekitar Rp400 miliar-Rp450 miliar pada Q3/2019. Sebagian besar di antaranya jatuh tempo pada September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
duniatex

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top