Perlambatan Kredit Perbankan Terjadi di Semua Segmen

Berdasarkan catatan Bank Indonesia dalam Analisis Uang Beredar, yang dikutip Bisnis pada Senin (5/8), kredit yang disalurkan perbankan hingga Juni 2019 sebesar Rp5.495,9 triliun. Realisasi itu naik 9,9 persen dibandingkan dengan Juni 2018 atau naik Rp173,9 triliun (3,2 persen secara year-to-date/ytd).
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  15:19 WIB
Perlambatan Kredit Perbankan Terjadi di Semua Segmen
Nasabah melintas di dekat mesin ATM Bank BNI di Jakarta, Selasa (12/9). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Hingga semester I/2019, fungsi intermediasi perbankan masih belum menggembirakan. Perlambatan pertumbuhan terjadi pada semua jenis kredit, mulai dari modal kerja investasi, hingga segmen konsumsi.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia dalam Analisis Uang Beredar, yang dikutip Bisnis pada Senin (5/8), kredit yang disalurkan perbankan hingga Juni 2019 sebesar Rp5.495,9 triliun. Realisasi itu naik 9,9 persen dibandingkan dengan Juni 2018 atau naik Rp173,9 triliun (3,2 persen secara year-to-date/ytd).

Realisasi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan kredit pada Mei 2019 yang mencapai 11,1 persen (year-on-year/yoy). Perlambatan penyaluran kredit tersebut terjadi baik pada golongan debitur, baik korporasi maupun perorangan.

Kredit kepada korporasi pada Juni 2019 tumbuh sebesar 12 persen yoy, melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 13,6 persen. Sementara itu, kredit kepada debitur perorangan naik 8,9 persen yoy, lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 9,3 persen.

Dilihat dari penggunaan, kredit modal kerja (KMK) tumbuh melambat dari 10,9 persen pada Mei 2019 menjadi 9,5 persen. Hal ini terutama karena perlambatan pada sektor industri pengolahan, yakni dari 13,6 persen menjadi 11,4 persen khususnya kredit yang disalurkan untuk subsektor pengolahan makanan di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Selain itu, pertumbuhan kredit modal kerja yang disalurkan ke sektor konstruksi juga melambat dari 20,6 persen menjadi 19,2 persen, khususnya pada subsektor jalan tol di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Sementara itu, kredit investasi tercatat tumbuh 13,3 persen yoy pada Juni 2019, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 14,6 persen terutama pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) serta sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan.

Pertumbuhan kredit investasi pada sektor PHR melambat dari 8,8 persen pada Mei 2019 menjadi 8,0 persen terutama karena perlambatan investasi pada subsektor perdagangan ekspor batu bara di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Timur.

“Perlambatan juga terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan dari 9,7 persen menjadi 8,8 persen, terutama disebabkan subsektor perkebunan kelapa sawit di wilayah Sumatra Utara dan Riau.”

KREDIT KONSUMSI

Adapun, untuk kredit konsumsi pada Juni 2019 juga melambat dari 8,4 persen menjadi 7,7 persen terutama disebabkan oleh perlambatan kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kredit multiguna.

KPR pada Juni 2019 meningkat sebesar 12,8 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 13,4 persen, khususnya karena perlambatan KPR tipe di atas 70 di wilayah Banten dan Jawa Barat. KKB tercatat tumbuh melambat dari 7,4 persen pada bulan Juni yang disebabkan oleh kendaraan roda empat di dua wilayah tersebut.

Kredit properti pada Juni 2019 tercatat sebesar Rp994,8 triliun tumbuh 16,2 persen, lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 17,3 persen disebabkan perlambatan kredit real estat, KPR dan KPA serta kredit konstruksi.

Perinciannya, kredit KPR dan KPA melambat dari 13,4 persen menjadi 12,8 persen. Adapun, kredit real estat juga melambat dari 8,7 persen menjadi 7,5 persen. Perlambatan juga terjadi pada kredit konstruksi dari 28,3 persen menjadi 26,2 persen.

Terakhir, penyaluran kredit untuk segmen UMKM per Juni tercatat sebesar Rp1.019,8 triliun, naik 11,6 persen. Pencapaian itu lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 10,8 persen. Akselerasi terjadi pada seluruh skala usaha.

PT Bank Central Asia Tbk. dalam paparannya menyatakan hingga semester I/2019 total kredit perseroan tercatat Rp565,23 triliun, naik 2,6 persen dibandingkan akhir tahun lalu (ytd) atau sebesar 11,5 persen (yoy) dari periode yang sama tahun lalu.

Apabila dibandingkan dengan posisi Desember 2018, kredit korporasi serta segmen komersial dan UKM masing-masing masih tercatat tumbuh 2,8 persen ytd, sedangkan segmen konsumer dan pembiayaan syariah tumbuh 2 persen dan 0,4 persen.

SESUAI PERMINTAAN

Terkait dengan pertumbuhan yang masih lambat tersebut, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, pihaknya hanya menyesuaikan dengan permintaan pasar.

“Kami bukan berniat untuk slow down, apalagi mumpung ada likuiditas kami ingin meningkatkan [penyaluran kredit], tapi harus yang baik. Tergantung permintaan dan siapa yang minta, kalau bagus kami pasti kasih, tapi kalau yang minta dinilai akan bikin pusing di kemudian hari, ya belum kami berikan,” katanya, belum lama ini.

Menurutnya, loan growth yang belum terlalu signifikan pada awal tahun adalah hal yang normal dan sudah merupakan sebuah siklus bagi industri perbankan secara umum, dan perseroan secara khusus.

“Itu normal, tiap tahun pada kuartal I selalu negatif kecuali dulu pada 2011- 2012 di mana kreditnya sudah digenjot sejak dari kuartal I,” katanya.

Direktur Keuangan BCA Vera Liem menambahkan hingga Maret 2019 pertumbuhan penyaluran kredit perseroan memang minus 1,1 persen dibandingkan akhir Desember lalu. Adapun, pertumbuhan 2,8 persen ytd yang dibukukan BCA mayoritas disalurkan selama periode Maret – Juni.

“Kalau kuartal II kita growth 5 persen dibandingkan Maret,” ujar Vera.

Bank swasta bermodal paling besar di Indonesia tersebut menyatakan pemberian kredit dilakukan dengan melihat individu debitur alih-alih sektor usahanya.

“Kami tidak menghindari sektor tertentu, kalau individunya bagus tapi tidak dikasih kredit karena industrinya jelek, kita malah lost opportunity. Lagipula kalau modal kerjanya dihentikan, nanti malah jadi trigger masalah cashflow, jadi kami lihat individualnya.”

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. membukukan kenaikan kredit yang cukup agresif. Bahkan, di atas rata-rata perbankan.

Dalam laporan presentasi analis perseroan, kredit yang disalurkan hingga paruh pertama 2019 sebesar Rp549,23 triliun, tumbuh 20 persen yoy atau naik sebesar 7,1 persen ytd. Realisasi itu juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ytd pada semester I/2018 sebesar 3,7 persen.

Direktur Keuangan BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan laju pertumbuhan kredit tersebut mulai meningkat pesat pada kuartal II atau sekitar 80 persen dari total kredit.

Adapun, pada 3 bulan pertama tahun ini, penyaluran kredit kurang lebih Rp7 triliun dari total Rp33 triliun kredit baru sepanjang paruh pertama 2019. Dilihat dari segmennya, penopang pertumbuhan kredit perseroan yang terbesar adalah segmen korporasi yang mengambil porsi 51,9 persen dari total debitur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top