Modal Rakyat Fokus Gaet Pendanaan dari Lender

PT Modal Rakyat Indonesia (Modal Rakyat) meyakini potensi pendanaan P2P lending masih terbuka lebar dengan semakin baiknya kualitas non performing loan (NPL) penyelenggara peer-to-peer (P2P) lending.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  13:17 WIB
Modal Rakyat Fokus Gaet Pendanaan dari Lender
Pengunjung menghadiri acara FinTech for Capital Market Expo 2019 di gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Rabu (19/6/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Modal Rakyat Indonesia (Modal Rakyat) meyakini potensi pendanaan P2P lending masih terbuka lebar dengan semakin baiknya kualitas non performing loan (NPL) penyelenggara peer-to-peer (P2P) lending.

Stanislaus MC Tandelilin, Chief Executive Officer Modal Rakyat mengatakan, saat ini sudah melayani 2.000 pinjaman dari 600 UMKM di 16 provinsi Indonesia, terutama di bagian Indonesia barat. Kebanyakan sektor yang diberikan pinjaman berasal dari sektor perdagangan.

Hingga Agustus 2019, Modal Rakyat telah menyalurkan sekitar Rp40 miliar. Dia menargetkan pembiayaan mencapai Rp300 miliar sampai akhir 2019.

“Pertumbuhannya sekitar 1.000% dengan menyalurkan Rp8 miliar -- Rp10 miliar per bulan rata-rata,” katanya pekan lalu.

Modal Rakyat telah terdaftar di OJK sejak tahun lalu. Dia mengatakan, potensi pendanaan di P2P lending masih terbuka lebar. Bahkan, untuk instrumen konvensional seperti saham saja kemungkinan tidak sampai 1 juta orang.

Saat ini, Modal Rakyat telah menghimpun sekitar 30.000 akun lender dengan menawarkan return sebesar 12%--25% per tahun, tergantung dari risiko profil UMKM. Dia menargetkan jumlah lender mencapai 100.000 akun hingga akhir 2019.

Dilihat dari risiko, non performing loan (NPL) Modal Rakyat masih sekitar 1%. Stanis terus mengembangkan kualitas credit scoring dengan menggaet beberapa startup point of sales (POS).

“Lender tidak perlu banyak, tetapi setiap lender kami harap bisa mendanai lebih. Kalau sudah percaya, mereka akan top up terus. Maka salah satu strateginya adalah selalu menjaga NPL supaya rendah,” ujarnya.

Menurut pemaparannya, lender telah tersebar di seluruh provinsi. Bahkan, nilai pendanaan terbesar justru berasal dari Kalimantan. Kebanyakan lender masih dari ritel dan beberapa lender institusi.

“Kami fokus tidak cuma peminjam, tetapi juga pendana. Kami user experience-nya sangat simpel. Setelah terdaftar, tidak sampai 1-2 menit langsung terintegrasi dengan Dukcapil,” katanya.

Dia tengah menyusun pengembangan fitur untuk lender menggunakan teknologi robo lending yang dapat mengotomatisasi kegiatan pendanaan para lender. Dia berharap awal 2020, fitur ini sudah dapat terealisasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
P2P lending

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top