MEGA Optimistis Aset dan DPK Tumbuh Sesuai Target

Menurut Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib, jumlah DPK sangat mempengaruhi nilai aset perusahaannya. Jika dana masyarakat yang dikelola menurun, maka nilai aset akan terdampak.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 09 September 2019  |  17:49 WIB
MEGA Optimistis Aset dan DPK Tumbuh Sesuai Target
Karyawan melayani nasabah di kantor cabang PT Bank Mega Tbk (MEGA), di Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan jumlah aset PT Bank Mega Tbk. sepanjang semester I/2019 diakibatkan berkurangnya jumlah dana pihak ketiga (DPK) yang bank ini kelola.

Menurut Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib, jumlah DPK sangat mempengaruhi nilai aset perusahaannya. Jika dana masyarakat yang dikelola menurun, maka nilai aset akan terdampak.

“Jumlah aset Bank Mega lebih dipengaruhi DPK bukan jumlah kredit. Contoh, nilai aset Bank Mega per Juni 2019 hanya tumbuh 1,6 persen padahal kredit tumbuh 19,7 persen,” ujar Kostaman kepada Bisnis, Senin (9/9/2019).

Berdasarkan laporan keuangan semester I/2019, pertumbuhan pembiayaan emiten dengan kode MEGA ini jauh di atas tingkat pertambahan DPK.

Penyaluran kredit Bank Mega berdasarkan laporan keuangan tumbuh 19,74 persen secara year-on-year (yoy), dari Rp38,5 triliun menjadi Rp46,1 triliun per Juni 2019. Namun, di saat bersamaan jumlah DPK yang dikelola Bank Mega turun 2,15 persen.

Penurunan DPK terjadi karena adanya pengurangan nilai giro, tabungan dan deposito yang disimpan di bank ini.

Aset Bank Mega sepanjang paruh pertama 2019 hanya tumbuh 1,6 persen secara yoy menjadi Rp84,28 triliun. Padahal, pada semester I/2018 aset bank ini meningkat 14,9 persen dari tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan DPK yang melambat di semester pertama 2019 karena bank lebih selektif dalam menghimpun DPK yang COF (Cost of Fund) sudah tinggi, mengingat LDR bank masih cukup rendah,” tuturnya.

Meski mengalami perlambatan kenaikan nilai aset pada paruh pertama tahun ini, namun Bank Mega optimis dapat mencapai target pertambahan aset hingga akhir tahun. Menurut Kostaman, sejak Agustus 2019 nilai aset perusahaannya sudah tumbuh 11,3 persen secara yoy.

Pertumbuhan signifikan nilai aset per Agustus, dibanding Juni, terjadi lantaran DPK yang terserap bank naik 8,8 persen pada periode yang sama secara yoy. Penghimpunan dana masyarakat lebih aktif dilakukan Bank Mega sejak Agustus karena Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan suku bunga acuan dengan total mencapai 50 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen.

“Target bisnis kami tidak ubah. Kami coba pencapaiannya saja yang lebih baik dari target,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank mega

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top