Mencari Juru Selamat Bank Muamalat

Tiga kali sudah rencana penawaran umum terbatas (PUT) bank syariah tertua di Indonesia tertunda. Menjelang akhir tahun berhembus kabar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan ikut andil dalam upaya keempat PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. menambah permodalan.
Muhammad Khadafi & M. Richard
Muhammad Khadafi & M. Richard - Bisnis.com 07 Oktober 2019  |  20:21 WIB
Mencari Juru Selamat Bank Muamalat
Petugas melayani nasabah di kantor cabang Bank Muamalat, Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/11/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Tiga kali sudah rencana penawaran umum terbatas (PUT) bank syariah tertua di Indonesia tertunda. Menjelang akhir tahun berhembus kabar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan ikut andil dalam upaya keempat PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. menambah permodalan.

Berdasarkan informasi yang diterima Bisnis, bank milik negara tengah melakukan uji tuntas terhadap Bank Muamalat. Hal ini bertepatan dengan terpilihnya Ma’ruf Amin sebagai wakil presiden terpilih periode 2019--2024, yang akan diambil sumpah jabatannya pada 20 Oktober 2019.

Terkait hal tersebut, Sekretaris Perusahaan Bank Muamalat Hayunaji hanya menjelaskan bahwa saat ini proses penguatan modal bank masih berjalan. “Saat ini BMI telah memulai proses lanjutan yang dimulai dengan due diligence [uji tuntas] oleh beberapa institusi dari dalam dan luar negeri,” katanya kepada Bisnis, Senin (7/10/2019).

Namun Hayunaji tidak menjelaskan lebih lanjut institusi yang hendak menjadi pemodal. Dia pun tidak pula menjelaskan skema penyuntikan modal.

Pada rencana akuisisi yang telah dipublikasikan, perusahaan bentukan Ilham Habibie dan SSG Capital Management Limited hendak mengakuisisi 77,1% saham baru senilai Rp2,2 triliun. Kabar terakhir konsorsium belum berhasil mendapatkan restu otoritas terkait hal tersebut, meskipun telah menyetor Rp2 triliun ke rekening penampung.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin berpendapat skenario penyelamatan Bank Muamalat menggunakan bank usaha milik negara sangat potensial. Pasalnya, kondisi ekonomi beberapa bank pelat merah, dan politik pemerintahan baru dapat melanggengkan skema tersebut.

"Ekonomi sangat berkaitan dengan politik. Saya melihat kondisi penyelamatan menggunakan bank pelat merah sangat relevan dan bahkan berpotensi tinggi," katanya kepada Bisnis, Senin (7/10/2019).

Dia menjelaskan, beberapa bank pelat merah, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. memiliki rasio kecukupan modal yang memungkinkan untuk melakukan aksi korporasi tersebut.

Di samping itu, Amin melanjutkan, kondisi anak usaha syariah bank pelat merah tersebut tergolong sehat, dan mampu menjadi mitra strategis Bank Muamalat dalam membantu menyehatkan kondisinya.

Dari sisi politik, dia menjelaskan terpilihnya salah satu Dewan Pengawas Syariah Bank Muamalat Maruf Amin sebagai Wakil Presiden 2019-2024, akan menjadi katalis positif untuk melancarkan aksi korporasi tersebut.

"Kalau hanya sekadar menyuntikkan modal saya rasa masih bisa. Namun, ini tidak akan sampai menggunakan anggaran pemerintah, karena akan terlalu riskan," ujarnya.

Adapun saat ini menyuntikan modal bagi Bank Muamalat bukan keputusan mudah. Bank tengah berurusan dengan pembenahan kinerja akibat membengkaknya pembiayaan bermasalah (nonperforming financing/NPF).

Berdasarkan laporan keuangan teranyar, kuartal II/2019, laba bank anjlok dengan diikuti kualitas aset yang kembali memburuk. Laba bersih setelah pajak bank per Juni 2019 turun 95,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp5,1 miliar. Pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang merosot 68,1% yoy menjadi satu penyebabnya.

Melihat lebih jauh, rentabilitas perusahaan yang loyo disebabkan oleh fungsi intermediasi yang turun 15,6% yoy menjadi Rp31,32 triliun. Ini merupakan imbas dari pengetatan likuiditas yang tengah dialami bank, sehingga perseroan tidak dapat menyalurkan pembiayaan baru.

Seperti diketahui, bank syariah tertua ini tengah memiliki isu dengan permodalan. Bank menunggu dana segar untuk kembali menjalankan bisnis secara normal.

Merosotnya kinerja bank pada paruh pertama tahun ini juga ditandai dengan rasio-rasio penting yang memburuk. Rasio NPF yang sebelumnya berhasil ditekan, kembali melambung. Per Juni 2019, rasio NPF kotor naik dari 1,65% menjadi 5,41%, sedangkan rasio NPF bersih naik dari 0,88% menjadi 4,53%.

Sementara itu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. menyatakan tidak memiliki rencana berinvestasi ke Bank Muamalat. Hal tersebut dinyatakan oleh Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas dan Corporate Secretary BNI Meiliana membantah pemberitaan berlandaskan rumor oleh analis asing yang menyebutkan bahwa Bank Mandiri dan BNI telah menyepakati due diligence untuk penambahan modal Bank Muamalat.

“Sekali lagi kami tegaskan bahwa Bank Mandiri maupun BNI tidak memiliki keinginan atau rencana untuk melakukan investasi di Muamalat. Jadi, melalui pernyataan ini kami membantah rumor tersebut,” ujar Corporate Secretary BNI Meiliana.

Kendati demikian sumber Bisnis menyatakan bahwa suntikan modal dari BUMN tidak akan masuk secara sederhana. PT Danareksa (Persero) nantinya akan memimpin penyelamatan bank.

Bisnis mencoba mengonfirmasi kepada Direktur Utama Danareksa Arief Budiman. Namun yang bersangkutan belum menjawab hingga berita ini diturunkan. Begitu pula Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo.

Bisnis juga mencoba menghubungi Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius Kiik Ro. Dia hanya membaca pesan tertulis yang dikirimkan Bisnis melalui Whatsapp

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank muamalat

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top