Mampukah Kredit Melaju Dua Digit?

Penyaluran kredit awal tahun yang cukup kuat membuat banyak pihak tercengang. Memasuki paruh dua justru kian melempem. Bagaimana nasib kredit di akhir tahun ini?
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  14:38 WIB
Mampukah Kredit Melaju Dua Digit?
Petugas menata tumpukan uang rupiah. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja pelaku industri perbankan tahun ini tergolong cukup unik. Pasalnya, penyaluran kredit awal tahun yang cukup kuat membuat banyak pihak tercengang.

Bahkan, saking kencangnya fungsi intermediasi awal tahun ini, banyak pihak justru mengkhawatirkan likuiditas pelaku industri perbankan kian tergerus dan membuka risiko likuiditas lebih tinggi.

Akan tetapi, menjelang memasuki paruh kedua, kinerja fungsi intermediasi perbankan justru kian melempem. 

Jika ditelisik lebih dalam, tren kinerja tersebut tergolong cukup kontras. Pasalnya, perlambatan terjadi saat regulator memberi insentif baik berupa pemangkasan suku bunga acuan dan giro wajib minimum.

Melanjuti bulan-bulan terakhir tahun ini, sebagian besar pelaku industri perbankan masih menyampaikan optimismenya dalam menorehkan kinerja sesuai dengan rencana bisnisnya.

Namun, banyak pula yang tak mampu mengelak, dan berpendapat bahwa gejala perlambatan pertumbuhan ekonomi yang lebih awal membuat kinerjanya juga tak begitu cemerlang.

Padalah, secara general, akhir tahun merupakan periode window dressing, yakni banyak korporasi termasuk perbankan merasa perlu untuk menggenjot kinerjanya guna mempercantik laporan keuangannya. 

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, pertumbuhan kredit pada awal tahun tercatat 12,28 persen (year-on-year/yoy), perlahan turun ke 9,94 persen yoy pada akhir paruh pertama tahun ini. Pada Agustus 2019, OJK mencatat pertumbuhan kredit hanya berada pada 8,59 persen yoy.

Pekerja membersihkan menara BCA di Jakarta, Selasa (12/3/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Subur Tan mengakui pertumbuhan kredit pada akhir tahun ini tidak akan terdongkrak cukup kuat.

Dia beralasan pertumbuhan ekonomi yang lemah tidak membuat pelaku industri perbankan akan mengambil langkah konsolidasi ketimbang ekspansi.

"Kredit ini sebenarnya melengkapi pergerakan ekonomi, kredit tidak bisa dipaksa kencang berlari kalau memang ekonomi tidak bisa menampung, bank fungsinya untuk itu, kita alamiah saja," katanya, Rabu (9/10/2019).

Dia menyampaikan perseroan pun juga tidak akan terlalu menggenjot kredit terlalu tinggi tahun ini. Dia memprediksi kredit BCA hanya mencapai posisi high single digit.

"Jika bank meningkatkan kredit dalam kondisi ekonomi yang sedang tidak baik ini, justru berdampak buruk. Kami tidak mau ada penurunan kualitas kredit," katanya.

Subur hanya berharap beberapa sektor andalan seperti perdagangan dan infrastruktur masih dapat menunjukkan performa yang baik pada akhir tahun ini, sehingga pertumbuhan kredit tidak terperosok terlalu jauh.

"Sektor tersebut masih cukup dapat diharapkan. Terlebih untuk proyek infrastruktur yang masih akan dilanjutkan pemerintah pada akhir tahun ini," ujarnya.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surjaudaja sebelumnya juga tak terlalu berharap penyaluran kredit akan sesuai yang ditargetkan. 

“Kelihatannya realisasi kredit kuartal III/2019 ini belum sesuai harapan, pertumbuhan kredit sangat dipengaruhi kondisi makro dunia,” ujarnya.

Nasabah melakukan transaksi di ATM Bank OCBC NISP, di Jakarta, Senin (1/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Dia menjelaskan, kinerja fungsi intermediasi pada kuartal ketiga Bank OCBC NISP tahun ini bahkan tidak lebih baik dari kuartal sebelumnya. Adapun, pertumbuhan kredit perseroan pada akhir paruh pertama tahun ini adalah 2 persen yoy.

Parwati juga menyampaikan perseroan akan fokus pada penjagaan kualitas kredit. Perseroan akan terus menjaga rasio kredit bermasalah di bawah 2 persen untuk gross, dan di bawah 1 persen untuk nett.

Di pihak lain, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menyampaikan pertumbuhan kredit baru akan dapat membaik pada tahun depan. Kondisi ekonomi riil yang saat ini tengah terseok-seok tidak akan mampu digenjot hanya dari sektor moneter.

“Sampai akhir tahun memang kondisi kredit perbankan memang agak sulit. Siklusnya tahun ini seperti itu,” katanya.

Di sisi lain, dia menyampaikan kondisi beberapa pelaku industri besar, yang mana adalah debitur korporasi loyal dari bank, saat ini juga tengah banyak mendapat permasalahan.

Hal ini, secara otomatis tentunya membuat pelaku industri perbankan untuk mengambil upaya konsolidasi untuk menjaga kinerjanya. Hal ini juga sejalan dengan tekanan dari implementasi pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) 71 tahun depan.

Namun, hal ini menurutnya pertanda baik karena artinya bank menjaga prinsip prudensial dan tidak mengambil risiko berlebihan. Selain strategi konsolidasi saat ini akan menjaga rentabilitas, hal ini juga akan membuat ekonomi tumbuh secara baik karena sektor riil hanya diisi kredit berkualitas.

Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Aviliani menyampaikan kinerja perbankan memang seharusnya tidak lagi dipaksakan. Korporasi yang saat ini tengah gendut mendapat banyak kredit dapat membuat masalah yang justru semakin buruk bagi kinerja perbankan tahun depan.

"Tahun ini pertumbuhan ekonomi juga saya rasa tidak terlalu tinggi, mungkin di bawah 5 persen. Maka dari itu pertumbuhan kredit juga tidak boleh dipaksakan."

Melihat syarat dan kondisi saat ini, industri perbankan memang tidak lagi memiliki opsi selain melanjutkan bisnis seadanya. Akan tetapi, target pertumbuhan ekonomi, yang pemerintah patok yakni 5,2 persen, mengartikan bahwa kebutuhan kredit baru yang tak sedkit pula. Lalu bagaimanakah kelanjutan kinerja pelaku indsutri perbankan sampai akhir tahun ini ?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, kredit

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top