Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menyikapi Rencana Stock Split BCA

Kabar aksi korporasi memecah nilai saham atau stock split oleh emiten perbankan dengan sandi saham BBCA terus mencuat.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  18:19 WIB
Menyikapi Rencana Stock Split BCA
Pekerja membersihkan menara BCA di Jakarta, Selasa (12/3/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kabar aksi korporasi memecah nilai saham atau stock split oleh emiten perbankan dengan sandi saham BBCA terus mencuat.

Namun, menurut analis, kinerja positif yang masih ditunjukkan perseroan masih menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.

Periset Institusi MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan bahwa secara resmi menajemen BBCA memang belum memberi sinyal kepastian stock split yang akan dilakukan. Namun, dengan aksi korporasi tersebut tentu akan positif dalam upaya menjaga ketersediaan likuiditas.

"Dengan adanya stock split, likuditas BBCA akan terjaga karena sahamnya bisa terjangkau bahkan untuk investor retail," katanya kepada Bisnis, Senin (14/10/2019).

Namun, Victoria melanjutkan, hingga saat ini likuiditas perseroan masih terpantau baik. Dengan demikian, kemungkinkan manajamen akan melakukan pertimbangan khusus terkait dengan hal tersebut.

Menurut Victoria hal itu, juga menjadi dasar proyeksi waktu aksi korporasi stock split tidak akan dilakukan dalam waktu dekat.

Sebelumnya, Presiden Direktur BBCA Jahja Setiaatmadja menegaskan stock split tidak akan dilakukan pada tahun ini dan aksi perseroan tersebut masih belum dapat diputuskan dalam waktu dekat.

"Pertimbangan perlu atau tidaknya stock split baru tahun depan, jadi belum tentu keputusan stock split akan dilakukan," katanya.

Karena masih wacana, imbuh Jahja, aksi korporasi ini pun mungkin belum akan dimasukkan ke Rencana Bisnis Bank (RBB) perseroan tahun depan.

Di samping itu, Jahja menuturkan, harga saham perseroan masih dalam kondisi yang baik hingga saat ini. Selain itu, pengetatan likuiditas pun masih belum menjadi isu perseroan. Oleh karenanya, masih dibutuhkan banyak pertimbangan untuk melakukan stock split.

"Bukan mahal murahnya, likuiditas di pasar dan apakah harganya masih baik, terlalu banyak saham beredar juga bisa menyebabkan fluktuasi sehingga tidak terkendali, itu yang mungkin jarang diamati oleh pelaku pasar," jelasnya.

Adapun, nilai saham bank berkode emiten BCA tersebut berada di level 30.650 saat pembukaan perdagangan bursa dan menurun tipis menjadi 30.625 saat penutupan pada Senin (14/10). Meskipun begitu, nilai saham BBCA sempat naik hingga di level 31.000.

Jika ditelisik ke belakang, nilai saham tersebut hingga saat ini meningkat 19,23% sejak Desember 2018 (year-to-date/ytd). Sementara, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018, nilai saham BBCA meningkat 29,44%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top