PHK Melanda Bank Besar di Dunia, Bagaimana Nasib Bankir di Indonesia?

Pelaku industri perbankan di Indonesia dipercaya masih solid sehingga tak akan melakukan aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk efisiensi.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 22 Oktober 2019  |  20:55 WIB
PHK Melanda Bank Besar di Dunia, Bagaimana Nasib Bankir di Indonesia?
Nasabah melakukan transaksi perbankan di galeri Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/9/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri perbankan di Indonesia dipercaya masih solid sehingga tak akan melakukan aksi pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk efisiensi.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5% membuat bank masih bisa menumbuhkan penyaluran kredit. Hal itu berdampak pada terjaganya kondisi bank di Indonesia dan efisiensi belum perlu dilakukan besar-besaran.

“PHK besar-besaran yang dilakukan bank-bank besar dunia mungkin lebih disebabkan oleh adanya kecenderungan perlambatan signifikan di masing-masing negara induk bank besar tersebut. Sementara itu, pertumbuhan Indonesia sendiri masih terjaga di kisaran 5%, serta pertumbuhan kredit di tingkat 9%-11%, sehingga kemungkinan besar sektor perbankan masih berada di posisi yang cukup solid dan tidak membutuhkan efisiensi signifikan,” ujar Josua kepada Bisnis, Selasa (22/10/2019).

Josua juga menyinggung terjaganya rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) industri perbankan. Namun, sebagai catatan hingga Juli 2019 rasio tersebut mengalami peningkatan secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 81,08%.

Meski tidak melakukan PHK, industri perbankan di Indonesia tetap harus melakukan efisiensi demi mengikuti perkembangan jaman. Ada sejumlah alternatif kebijakan yang bisa diambil bank untuk ini.

“Adapun alternative perbankan untuk melakukan efisiensi antara lain branchless banking, di mana bank tidak perlu untuk melakukan ekspansi cabang dan beroperasi secara digital,” ujarnya.

Analisa serupa disampaikan Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardana. Dia memandang pemanfaatan teknologi bisa dimanfaatkan untuk efisiensi proses dan operasional bank yang sarat terjadi kesalahan manusia.

“Sehingga tenaga kerja yang ada bisa di-pindah-fokus-kan untuk ekspansi bisnis dan strategis yang tidak dapat digantikan oleh teknologi,” ujar Wisnu kepada Bisnis.

Sebagai catatan, sejumlah bank besar telah melakukan PHK demi efisiensi beberapa waktu terakhir. Salah satu perusahaan yang melakukan hal ini adalah HSBC Holding Plc.

Bank asal Inggris ini berencana memangkas 10.000 karyawan demi memangkas biaya di seluruh kelompok perbankan. PHK yang akan dilakukan HSBC menyasar pekerja dengan pendapatan tinggi. Keputusan ini diambil lantaran turunnya prospek bisnis HSBC akibat perang dagang AS-China.

Commerzbank AG juga mempertimbangkan untuk melakukan PHK lanjutan terhadap 2.000 karyawannya sebagai bagian strateginya efisiensi perusahaan.

Rencana ini dilakukan Chief Executive Officer Commerzbank AG Martin Zielke dalam upaya bertahan dengan pelemahan laju ekonomi serta prospek tingkat suku bunga yang lebih rendah. Bank ini akan berusaha untuk merealisasikan pemangkasan tersebut pada 2022 atau 2023.

Kemudian, PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE) hendak mengurangi jumlah karyawan pada tahun ini. Hal tersebut dilakukan untuk menekan rasio BOPO.

Berdasarkan laporan publikasi, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) bank naik dari 95,27% per Juni 2018 menjadi 98,68% per Juni 2019. Beban tenaga kerja tumbuh 7,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp43,9 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bankir

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top