Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penghimpunan Dana Bakal Salip Kredit yang Melambat

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan simpanan masyarakat pada tahun ini akan lebih solid dibandingkan dengan penyaluran kredit . Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi tahun sebelumnya, yakni penghimpunan dana lebih rendah dari pembiayaan.
Lalu Rahadian & Muhammad Khadafi
Lalu Rahadian & Muhammad Khadafi - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  21:06 WIB
Warga melintasi galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (5/8/2019). - ANTARA/Aditya Pradana Putra.
Warga melintasi galeri anjungan tunai mandiri (ATM) di Kebayoran Lama, Jakarta, Senin (5/8/2019). - ANTARA/Aditya Pradana Putra.

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan simpanan masyarakat pada tahun ini akan lebih solid dibandingkan dengan penyaluran kredit . Kondisi ini berbanding terbalik dengan kondisi tahun sebelumnya, yakni penghimpunan dana lebih rendah dari pembiayaan.

Sekretaris LPS Muhamad Yusron mengatakan indikasi pertumbuhan simpanan yang lebih tinggi dari kredit telah terlihat sejak pertengahan 2019. Prediksi ini bisa terwujud pada 2020 jika kondisi ekonomi dan sentimen investor terhadap perekonomian Indonesia tidak membaik.

“Indikasi ini sudah terpantau sejak pertengahan tahun lalu. Selain karena sisi kredit yang cenderung melambat, tetapi ada ekspansi fiskal di pusat dan daerah yang didukung pula arus inflow positif di pasar bond mendorong pertumbuhan simpanan lebih baik,” ujar Yusron kepada Bisnis, Jumat (10/1/2020).

Berdasarkan Data Distribusi Simpanan Bank Umum yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dana pihak ketiga (DPK) yang dikelola bank umum per November 2019 tumbuh 6,54% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp6.042 triliun. Pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018.

Pada saat yang sama, berdasarkan data Analisis Uang Beredar November 2019 yang dirilis Bank Indonesia kredit perbankan tercatat tumbuh 7% yoy menjadi Rp5.549,4 triliun. Hal ini menunjukkan tipisnya selisih pertumbuhan antara DPK dan kredit perbankan pada akhir 2019.

“Jika sentimen bisnis dan ekspektasi terhadap ekonomi bisa lebih positif kemungkinan pertumbuhan kredit di semester II/2020 akan lebih balance dengan simpanan,” kata Yusron.

Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Wisnu Wardhana mengatakan perlambatan kredit satu tahun terakhir menjadi keuntungan tersendiri di tengah lambatnya pertumbuhan dana pihak ketiga sepanjang 3 tahun terakhir.

“Ini menjadi blessing in disguise, karena pertumbuhan DPK jadi mendekati pertumbuman kredit. Bukan karena DPK melaju kencang, tapi karena kredit tumbuh melambat,” katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu. 

Dia melanjutkan bahwa pada tahun ini proyeksi pertumbuhan ekonomi akan lebih kurang setara dengan tahun lalu. Dengan demikian permintaan kredit data dipastikan juga akan serape dengan tahun lalu. 

DPK pada sisi lain mengalami penguatan pertumbuhan, meskipun cenderung sedikit. Hal ini akan memungkinkan pada tutup buku 2020, persentase pertumbuhan DPK dan kredit berpotensi tidak jauh berbeda. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit dpk
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top