Penurunan Bunga Simpanan, Bank Masih Wait and See

Dalam melakukan penyesuaian bunga simpanan terhadap peluang penurunan suku bunga acuan tahun ini, bank-bank bakal melihat kondisi likuiditas dan persaingan pasar.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  14:06 WIB
Penurunan Bunga Simpanan, Bank Masih Wait and See
Ilustrasi suku bunga deposito pada Januari 2016. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor perbankan masih wait and see dalam membuat kebijakan penurunan suku bunga simpanan. Pasalnya, pelaku industri perlu menyesuaikan kondisi likuiditas dan persaingan pasar.

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., misalnya, cenderung akan menekan biaya atau cost of fund pada level 3,0 persen hingga 3,1 persen menyusul peluang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7 Days Reverse Repo Rate pada tahun ini, melalui peningkatan porsi dana murah.

Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta mengatakan perseroan telah menyiapkan opsi jika penurunan suku bunga acuan BI berlanjut pada tahun ini. Perseroan akan menekan biaya dana melalui pertumbuhan komposisi current account saving account atau CASA. Nantinya, BNI akan menjaga rasio CASA pada kisaran 65 persen sampai 67 persen.

"Penurunan biaya dana ini akan kami review secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas dan persaingan dalam penghimpunan dana sektor perbankan," katanya kepada Bisnis, Senin (3/2/2020) malam.

BNI pada 2020 akan memperhatikan perkembangan suku bunga acuan, tingkat likuiditas, dan persaingan dalam memperoleh dana sebelum memutuskan penurunan suku bunga simpanan.

Dia mengakui, penurunan suku bunga acuan BI pada kondisi di lapangan juga tidak dapat diikuti langsung dengan penurunan suku bunga kredit. Pada kondisi normal, transmisi penurunan suku bunga kredit di kisaran empat sampai enam bulan setelah penurunan suku bunga acuan.

"Tentunya dengan tetap mempertimbangkan faktor resiko kredit serta faktor makro ekonomi," sebutnya.

Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Haru Koesmahargyo mengatakan pada tahun ini tren penurunan suku bunga akan berlanjut. Hanya saja, perseroan masih wait and see dalam melakukan penurunan suku bunga.

Haru menyebutkan penurunan suku bunga simpanan yang akan dilakukan perseroan, mengikuti kondisi likuiditas bank. Apabila pertumbuhan kredit melandai pada 2020, tekanan likuiditas juga relatif akan mereda, sehingga akan ada potensi penurunan suku bunga simpanan.

Menurutnya, selama 2019, BRI telah melakukan penurunan suku bunga sebesar 25 hingga 50 basis poin (bps). Sementara, pada 2020 belum dipastikan penurunan suku bunga BRI akan berlanjut atau tidak.

"Kami lihat dulu suku bunga acuan dan kondisi likuiditas dulu ya," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga, suku bunga deposito

Editor : Annisa Sulistyo Rini
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top