Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Asuransi Butuh Skenario Lanjutan Setelah Countercyclical

Dibutuhkan kajian lanjutan untuk menata ulang bisnis asuransi karena pandemi Covid-19 akan mendatangkan era baru dalam industri asuransi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 17 Mei 2020  |  21:10 WIB
Foto Multiple Exposure karyawan saat beraktivitas di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Foto Multiple Exposure karyawan saat beraktivitas di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi di Tanah Air membutuhkan kebijakan lanjutan setelah kebijakan countercyclical yang diluncurkan hanya untuk bertahan dalam jangka pendek.

Dosen Program MM-Fakuktas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Kepler A. Marpaung menilai tidak ada pihak yang mengetahui kapan penyebaran wabah Covid-19 akan berakhir di Indonesia, termasuk dampak ekonomi akan terjadi setelahnya.

Dengan realitas itu maka industri asuransi harus melakukan kajian dan analisa sejauh mana dampak Covid-19 bagi bisnis.

"Industri asuransi tidak bisa lagi santai dan merasa cukup dengan kebijakan relaksasi yang diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan [OJK]. Masalah yang akan dihadapi bisa lebih serius, operasional akan terganggu, cadangan teknis terganggu, akhirnya [memengaruhi] capital," ujar Kepler kepada Bisnis, Minggu (17/5/2020).

Masalah lanjutan yang akan segera dihadapi industri asuransi, menurut Kepler, yakni kemungkinan pembatalan polis bagi risiko-risiko tertentu. Penurunan daya beli masyarakat berpotensi membuat peserta membatalkan sejumlah polis untuk mengurangi pengeluaran.

"Itu [banyaknya polis yang dibatalkan] tergantung berapa lama physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar [PSBB] berlaku," ujarnya.

Kepler pun menyampaikan bahwa salah satu perusahaan reasuransi terbesar di dunia telah melakukan riset dan analisa dengan membuat skenario-skenario dampak Covid-19 bagi industri asuransi. Perusahaan tersebut membuat skenario optimistis yakni penyebaran Covid-19 berakhir dalam tiga bulan, moderat yakni enam bulan, dan serius jika berakhir dalam satu tahun. Berdasarkan skenario optimistis, pasa asuransi di Amerika Serikat dan Inggris diperkirakan akan merugi hingga US$10 miliar.

Lalu, dengan skenario moderat, industi dipekirakan akan merugi hingga US$32 miliar. Bahkan, skenario terburuk dipekirakan akan menghantam industri asuransi degan kerugian US$80 miliar hingga US$140 miliar.

"Memang jenis coverage risiko di Amerika Serikat dan Inggris ada bedanya dengan Indonesia, tetapi dengan angka itu dan Covid-19 masih bersifat uncertainty, industri asuransi di Indonesia perlu diperingatkan secara serius," ujarnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi OJK asuransi jiwa Virus Corona Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)
Editor : Anggara Pernando
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top