Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ikut Distribusi SBN Lagi, Fintech Modalku Beri Pilihan Diversifikasi Investasi Bagi Lender

Sekitar 60% profil investor Surat Berharga Negara (SBN) di Modalku adalah milenial. Ini sejalan dengan data Kementerian Keuangan yang mencatat kaum milenial terbukti mampu merajai porsi pembelian terbesar dari SBN terbaru bertajuk ORI017, yakni mencapai 43%.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 19 Agustus 2020  |  23:02 WIB
Co Founder Modalku Reynold Wijaya dan Iwan Kurniawan - Istimewa
Co Founder Modalku Reynold Wijaya dan Iwan Kurniawan - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) menyatakan antusiasme para user di platform teknologi finansial (tekfin/fintech) tersebut untuk melakukan diversifikasi investasi di Surat Berharga Negara (SBN) terbilang tinggi, terutama para user dari kalangan milenial.

Modalku merupakan salah satu pionir sebagai penyelenggara fintech peer-to-peer (P2P) lending yang menjadi mitra distribusi SBN. Terakhir, Modalku pun ikut memeriahkan penerbitan obligasi ritel terbaru pemerintah, yakni ORI017.

"Dengan adanya surat utang negara [sebagai produk dalam platform], Modalku memberikan pilihan bagi pemberi pinjaman untuk diversifikasi dananya ke tingkat risiko yang berbeda atau lebih aman. Sebagai informasi, sekitar 60% profil investor SBN di Modalku adalah milenial," ujar CoFounder & CEO Modalku Reynold Wijaya kepada Bisnis, Rabu (19/8/2020).

Menurut Reynold, produk SBN seperti ORI017 menarik minat milenial karena bersifat aman, dijamin oleh negara, serta penjualannya dilakukan secara online. Sehingga produk investasi ini mudah untuk diakses milenial yang notabene dekat dengan gadget dan sudah terbiasa berselancar di dunia maya.

Oleh sebab itu, Modalku menyatakan akan meneruskan kiprahnya sebagai salah satu mitra distribusi SBN terutama bagi milenial yang telah bergabung dalam ekosistem Modalku sebagai investor atau pendana (lender), serta yang belum aktif berinvestasi.

"Hingga saat ini kami masih menjadi mitra distribusi, baik di SBR, Sukuk, maupun ORI. Sebagai informasi tambahan, di bulan Agustus ini kami juga kembali dipercaya sebagai mitra distribusi [sukuk ritel seri] SR013," tambahnya.

Reynold menjelaskan kendati distribusi SBN merupakan produk 'sampingan' di luar bisnis P2P lending, menjadi mitra distribusi SBN memberi dampak positif tersendiri bagi Modalku.

"Hal ini menunjukkan bahwa sektor fintech semakin terintegrasi dengan ekosistem keuangan negara. Selain itu, kemudahan yang ditawarkan oleh fintech khususnya P2P lending tentu menjadi salah satu alasan bagi masyarakat Indonesia untuk membeli surat utang negara di platform kami sebagai alternatif investasi," ungkap Reynold.

Selain itu, semangat utama dari Modalku untuk ikut mendistribusikan SBN, yaitu untuk berkontribusi dalam mendukung terwujudnya inklusi keuangan di Indonesia, mengedukasi masyarakat soal investasi serta membuat ekosistem platform P2P lending semakin mendapat kepercayaan masyarakat.

"Hal ini sejalan dengan visi kami, yaitu membangun perekonomian di Indonesia. Sehingga sebagai mitra distribusi, kami akan memaksimalkan peran kami untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mendapatkan alternatif investasi, baik sebagai lender P2P atau sebagai investor lewat produk-produk di Modalku seperti investasi SBN," tutupnya.

Sekadar informasi, tercatat hanya ada lima fintech yang menjadi mitra distribusi (Midis) SBN hingga terbitan ORI017. Sementara itu, baru ada dua fintech P2P lending yang ikut menjadi Midis SBN, yakni Modalku dan PT Investree Radhika Jaya (Investree).

Tiga sisanya merupakan Fintech Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), yakni PT. Bareksa Portal Investasi (Bareksa), PT. Star Mercato Capitale (Tanamduit), dan PT. Nusantara Sejahtera Investama (Invisee).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, market share penjualan ORI017 memang masih dikuasai Midis perbankan, namun, dari sisi jumlah investor, porsi midis fintech menunjukkan pertumbuhan. Pada penerbitan ORI sebelumnya (ORI016) jumlah investor yang membeli dari Midis fintech hanya 7,8 persen. Angkanya naik pada ORI017 menjadi 11,9 persen. Midis fintech pun menyumbang rata-rata volume pemesanan terkecil, yaitu Rp19,9 juta per pembelian ORI017. 

Hal ini dinilai merupakan kabar baik karena semakin kecil rata-rata volume pemesanan SBN ritel, menunjukkan tingkat keritelan yang semakin baik dan mencerminkan perkembangan yang positif atas upaya peningkatan inklusi keuangan.

Penjualan ORI017 memperbarui rekor penjualan SBN online dengan total volume sebesar Rp18,3 triliun, serta dianggap mampu merangkul investor baru karena pada ORI017 sebanyak 23.949 orang atau 56% dari total investor merupakan investor baru. Porsi profil umur investor ORI017 yang terbilang muda pun tampak positif.

Kelompok generasi Z (<20 tahun) sebesar 1%, meningkat jika dibandingkan ORI016 yang hanya 0,22%. Sementara itu, generasi milenial (20-40 tahun) atau yang umurnya satu tingkat di atas generasi Z pun merajai porsi tertinggi, yakni sebesar 43%.

Tingkat keritelan yang baik dari ORI017 tercermin dari rata-rata pembelian sebesar Rp429,1 juta, lebih rendah jika dibandingkan dengan seri ORI sebelumnya yang dijual secara online, yaitu ORI016 dengan rata-rata pembelian Rp447,9 juta. Tingkat keritelan yang baik juga tercermin dari penambahan investor yang melakukan pembelian minimum atau Rp1 juta menjadi sebanyak 2.002 orang, atau naik hingga 123% dibandingkan pembelian minimum di ORI016. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fintech Modalku
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top