Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Permata (BNLI) Siap Naik Kelas ke BUKU IV Sebelum Akhir Tahun

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2020, Bank Permata mencatat modal inti utama konsolidasi sebesar Rp22,21 triliun.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 27 Agustus 2020  |  18:19 WIB
Nasabah melakukan transaksi perbankan melalui anjungan tunai mandiri Bank Permata di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Nasabah melakukan transaksi perbankan melalui anjungan tunai mandiri Bank Permata di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Permata Tbk. (BNLI) bersiap naik kelas ke Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) IV dengan modal inti di atas Rp30 triliun setelah diakuisisi oleh Bangkok Bank.

Direktur Bank Permata Lea Kusumawijaya mengatakan penggabungan kantor cabang Bangkok Bank di Indonesia dengan Bank Permata ditargetkan selesai sebelum akhir tahun. Hal ini sesuai dengan rencana integrasi dan arahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Memang sesuai dengan rencana integrasi, penyelesaian integrasi antara kantor cabang di Indonesia dan Bank Permata ditargetkan diselesaikan sebelum akhir tahun," katanya dalam pubex live IDX, Kamis (27/8/2020).

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2020, Bank Permata mencatat modal inti utama konsolidasi sebesar Rp22,21 triliun. Dengan begitu, Bank Permata setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp8 triliun untuk menjadi BUKU IV, dengan minimal modal inti senilai Rp30 triliun.

Lea menjelaskan permodalan di Bangkok Bank kantor cabang di Indonesia cukup kuat yaitu sekitar Rp21 triliun. Dengan demikian, jumlah modal Bank Permata setelah penggabungan akan melebihi Rp40 triliun.

"Dengan demikian, Bank Permata setelah integrasi akan eligible menjadi BUKU IV," imbuhnya.

Begitu pula, kredit Bank Permata setelah penggabungan dapat mencapai sekitar Rp124 triliun dan dana pihak ketiga mencapai Rp135 triliun. Adapun, rasio kredit bermasalah atau NPL mengalami perbaikan dengan rasio mendekati kisaran 3 persen.

Perhitungan ini berdasarkan angka laporan keuangan Bangkok Bank per Juni 2020, di mana kredit yang disalurkan sebesar Rp20 triliun dengan DPK sekitar Rp11 triliun.

Namun, lanjut Lea, angka-angka tersebut masih akan bergantung pada tanggal penyelesaian atau efektifnya integrasi. Adapun tanggal efektif penggabungan cabang Bangkok Bank di Indonesia dengan Bank Permata harus mendapatkan persetujuan OJK.

"Jadi, mungkin angka masih bisa berubah," lanjutnya.

Sebagai informasi, mulai 27 Agustus 2020 hingga 30 hari ke depan, Bangkok Bank Public Company Limited (Bangkok Bank) mulai melakukan penawaran tender wajib. Harga penawaran tender wajib atas saham publik ditetapkan sebesar Rp1.347 per saham. Pembayaran kepada pemegang saham akan dibayarkan pada 7 Oktober 2020.

Tender wajib itu merupakan langkah berikutnya setelah Bangkok Bank melakukan transaksi akuisisi atas 89,12 persen kepemilikan saham PT Astra International Tbk. dan Standard Chartered PLC di PT Bank Permata Tbk.

Penawaran tender dilakukan sehubungan dengan saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik dalam jumlah 26,88 juta saham kelas A dan 3,02 miliar saham kelas B dari modal perseroan yang telah ditempatkan, mewakili sekitar 10,88 persen dari seluruh modal perseroan yang telah ditempatkan dan disetor dengan nilai nominal Rp12.500 per saham kelas A dan Rp125 per saham kelas B, pada harga penawaran tender wajib sebesar Rp1.347 per saham.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank permata emiten bank bangkok bank
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top