Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Resesi Menghantui, Minat Investor ke Asuransi Jiwa Masih Besar, Tapi...

Ketertarikan investor untuk melakukan merger atau akuisisi di industri asuransi akan tetap terjaga meskipun resesi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 22 September 2020  |  20:44 WIB
Karyawan berkomunikasi didekat logo beberapa perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Selasa (15/1/2019). Bisnis - Nurul Hidayat
Karyawan berkomunikasi didekat logo beberapa perusahaan asuransi di kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Jakarta, Selasa (15/1/2019). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Minat investor untuk melakukan aksi korporasi di industri asuransi jiwa dinilai tetap besar meskipun terjadi tekanan ekonomi saat resesi.

Pengamat asuransi dan Mantan Komisaris Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 Irvan Rahardjo menilai bahwa rendahnya penetrasi dan densitas asuransi di Indonesia menjadi potensi besar yang menarik minat investor untuk masuk, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor cukup melirik peluang industri asuransi jiwa di Indonesia. Irvan menilai bahwa ketertarikan investor untuk melakukan merger atau akuisisi di industri asuransi akan tetap terjaga meskipun resesi.

"Asuransi jiwa sudah bisa menyesuaikan dengan model bisnis baru yaitu digitalisasi, juga ada dorongan peningkatan awareness dan willingness to buy. Namun, kalau masuk resesi panjang akan menekan kembali kinerja industri, terutama asuransi umum yang sangat bergantung kepada kredit perbankan," ujar Irvan kepada Bisnis, Selasa (22/9/2020).

Dia menilai bahwa tekanan likuiditas akan semakin terasa oleh industri pada tahun depan. Hal tersebut karena klaim dari berbagai lini bisnis, baik di asuransi jiwa maupun umum, berpotensi meningkat pada tahun depan dan nilainya belum dapat diperkirakan.

Terlebih, menurut Irvan, jika penanganan pandemi Covid-19 belum maksimal yang menyebabkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terus berlangsung maka industri akan menghadapi kondisi yang sulit. Menurutnya, saat itulah investor akan 'memasang mata' kepada industri asuransi.

"Timbul dorongan merger dan akuisisi karena klaim yang besar di satu sisi dan likuiditas yang tertekan di sisi lain akan menggerus modal, sehingga harus ada suntikan dana segar dari investor," ujarnya.

Selain itu, Irvan pun menilai bahwa golongan berpenghasilan menengah ke atas akan memilih berinvestasi di instrumen fixed income dalam keadaan resesi. Beralihnya dana dari pasar modal, yang menjadi sumber investasi industri asuransi, maka akan memengaruhi bisnis proteksi itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi jiwa Resesi Merger & Akuisisi
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top