Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Indonesia Alami Resesi, Dua Lini Asuransi Ini jadi Sorotan

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menjelaskan bahwa penurunan produk domestik bruto (PDB) yang menyebabkan resesi akan memberikan efek domino terhadap kondisi perekonomian setelahnya, termasuk bagi asuransi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 23 September 2020  |  19:37 WIB
Karyawan melintasi logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Kondisi resesi dinilai akan cukup menekan kinerja bisnis asuransi. Dalam kondisi tersebut, dua lini bisnis menjadi sorotan karena salah satunya akan sangat terdampak dan satu lainnya menyimpan potensi besar.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menjelaskan bahwa penurunan produk domestik bruto (PDB) yang menyebabkan resesi akan memberikan efek domino terhadap kondisi perekonomian setelahnya, termasuk bagi asuransi.

Dia menilai bahwa kondisi saat resesi, daya beli masyarakat menurun sehingga prioritas belanjanya akan berubah. Sebagai kebutuhan sekunder atau tersier, belanja asuransi berpotensi akan turut melorot karena masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan pokok atau menyimpan dananya.

"Orang akan memilih prioritas belanja kebutuhan yang penting untuk hidup dulu. Produk-produk konsumtif akan menurun, seperti belanja kendaraan, properti, vakansi [leisure], dan lain-lain, yang berarti kebutuhan asuransi akan turun juga," ujar Dody kepada Bisnis, Rabu (23/9/2020).

Dia menilai terdapat dua lini bisnis asuransi umum yang menjadi perhatian industri, yakni asuransi kredit dan asuransi mikro. Kedua lini bisnis ini memiliki prospek yang berlawanan dalam masa pandemi, pun pengaruhnya bagi masyarakat.

Menurut Dody, kinerja asuransi kredit berpotensi menurun seiring munculnya berbagai risiko kredit saat pendapatan masyarakat menurun. Alhasil, perolehan premi baru asuransi kredit berpotensi menurun dan klaim polis existing dapat meningkat.

"Hal yang sama juga akan berdampak ke perusahaan asuransi yang memiliki portofolio asuransi kredit. Perlu dipastikan apakah perusahaan asuransi tersebut memiliki kecukupan cadangan untuk menghadapi potensi liabilitas ke depan, dan sebagainya," ujarnya.

Penurunan kinerja asuransi kredit telah terlihat pada semester I/2020, yang berdasarkan data AAUI jumlah preminya mencapai Rp5,7 triliun. Perolehan premi itu turun 6,1 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan semester I/2019 dengan premi Rp6,16 triliun.

Asuransi kredit tercatat sebagai lini bisnis dengan pangsa pasar terbesar ketiga di industri asuransi umum, yakni 15,4 persen dari total premi industri semester I/2020 senilai Rp37,6 triliun. Lini tersebut berada di bawah asuransi kendaraan bermotor (23,3 persen) dan properti (21,4 persen).

Saat perolehan preminya yang menurun, asuransi kredit justru mengalami kenaikan klaim pada semester I/2020. Klaim yang dibayarkan senilai Rp4,09 triliun itu naik 16,3 persen (yoy) dari posisi semester I/2019 senilai Rp3,52 triliun.

Meskipun begitu, AAUI menilai bahwa dalam kondisi ekonomi seperti apapun, masyarakat tetap memiliki potensi risiko dalam berbagai aktivitasnya. Industri asuransi perlu menyesuaikan produknya dengan batasan cakupan manfaat dan premi yang terjangkau, khususnya saat resesi.

Dody menilai bahwa salah satu solusi proteksi dalam kondisi ekonomi yang penuh tekanan adalah asuransi mikro. Produk yang sederhana dengan premi terjangkau itu dinilai optimal dalam menjangkau berbagai lapisan masyarakat, khususnya yang belum memahami pentingnya proteksi melalui asuransi.

"Asuransi mikro adalah produk yang bisa dikembangkan saat ini, tapi dengan tetap menekan biaya operasional. Untuk itu, sangat beruntung perusahaan-perusahaan asuransi yang sudah lama memiliki platform dan sistem teknologi untuk mengembangkan asuransi mikro ini," ujarnya.

Produk asuransi mikro tergolong ke dalam kategori asuransi aneka. Pada semester I/2020, lini bisnis tersebut mencatatkan premi Rp1,59 triliun atau merosot 25,15 persen (yoy) dibandingkan dengan semester I/2019 senilai Rp2,13 triliun.

Pembayaran klaim asuransi aneka turut menurun, sejalan dengan kinerja preminya. Pada semester I/2020, klaim lini bisnis itu tercatat senilai Rp339 miliar, turun hingga 60,4 persen (yoy) dari klaim semester I/2019 senilai Rp856 miliar.

Turunnya pembayaran klaim itu membuat rasio klaim lini bisnis asuransi aneka pada semester I/2020 hanya menjadi 21,2 persen, padahal pada semester I/2019 tercatat mencapai 40,2 persen. Dody menejelaskan bahwa penurunan kinerja asuransi aneka lebih banyak disebabkan oleh produk asuransi perjalanan, sehingga belum terlihat bagaimana kinerja asuransi mikro saat ini.

Dody pun menjelaskan bahwa kondisi resesi yang berkepanjangan akan mengakibatkan depresi ekonomi atau dapat dikatakan kondisi perekonomiannya bangkrut. Tentu para pelaku usaha tidak mengharapkan hal tersebut terjadi, sehingga penanganan pandemi Covid-19 menjadi kunci utama.

"Untuk itu perlu ada skema agar meskipun terjadi resesi, yang semua negara mengalaminya, tetapi kegiatan ekonomi masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah tetap berjalan," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi aaui asuransi kredit asuransi mikro
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top