Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dari 7 Bank Jumbo, Hanya 2 yang Labanya Masih Tumbuh. Siapa Tuh?

Berdasarkan data publikasi yang dikumpulkan Bisnis, dari 7 bank besar yang masuk ke kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV, hanya dua bank yang mencatatkan pertumbuhan laba.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 19 Oktober 2020  |  14:16 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Pandemi Covid-19 yang memukul perekonomian berdampak pada kemampuan bank untuk menghasilkan laba.

Berdasarkan data publikasi keuangan masing-masing bank yang dikumpulkan Bisnis, dari 7 bank besar kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV, hanya dua bank yang mencatatkan pertumbuhan laba.

Kedua bank tersebut yaitu PT Bank Central Asia Tbk. dan PT Bank Panin Tbk. Bank-bank ini masih mampu mencatakan pertumbuhan laba positif pada pertengahan paruh kedua 2020.

Emiten berkode BBCA dan PNBN ini mencetak pertumbuhan laba masing-masing sebesar 2,83 persen dan 3,55 persen secara tahunan per Agustus tahun ini. Laba masing-masing bank tercatat senilai Rp18,52 triliun dan Rp2,04 triliun.

Hal ini justru kontras dengan peer bank BUKU IV lain yang secara rata-rata labanya terpangkas hingga 26 persen secara tahunan.

Nominal laba yang dicetak BCA pada pertengahan kuartal kedua ini pun juga menyalip laba bank-bank pelat merah.

Bank pelat merah kompak membukukan penurunan laba yang dalam. BRI membukukan laba senilai Rp13,41 triliun atau turun 40,16 persen, sedangkan Bank Mandiri turun 28,78 persen menjadi Rp12 triliun.

Bahkan, laba BNI terpangkas hingga 49,7 persen secara tahunan menjadi Rp4,36 triliun.

Sementara bank swasta besar lainnya juga membukukan penurunan laba. Bank Danamon membukukan penurunan laba terbesar yakni 52,77 persen secara tahunan menjadi Rp1,11 triliun.

Adapun, Bank CIMB Niaga mengalami penurunan laba sebesar 18,30 persen menjadi Rp1,83 triliun pada Agustus 2020.

Saat dihubungi, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja tak mau banyak berkomentar terkait dengan pertumbuhan laba positif perseroan pada pertengahan paruh kedua tahun ini.

"Gejolak ekonomi susah diramal saat ini, kami pun bisa ramal dan tidak boleh juga secara aturan cap market. Kami no comment," katanya.

Adapun, peningkatan margin perseroan sudah nampak cukup gamblang saat penurunan suku bunga deposito yang bahkan menyentuh 3,35 persen. Hal ini membuat beban dana perseroan terpangkas cukup baik untuk menunjang laba.

Di samping itu, restrukturisasi tergolong besar tetapi tidak masih terjaga jika dibandingkan dengan industri secara umum yang lebih dari 16 persen.

Per Juni 2020, restrukturisasi BCA mencapai Rp69,31 triliun, atau sekitar 12 persen dari baki kredit Rp580,98 triliun sehingga pendapatan bunga masih dapat tumbuh sekaligus beban pencadangan tidak naik begitu signifikan.

Presiden Direktur Bank Panin Herwidayatmo mengakui kondisi ekonomi tahun ini cukup menantang dan membuat kemampuan membukukan laba menjadi sulit.

Namun, dia menyebutkan pencetakan laba bagi perseroan cukup penting, dan perseroan akan menjaga tingkat laba hingga akhir tahun.

"Ke depan tekanan laba tentu ada, tetapi kami tidak akan membiarkan laba turun dalam. Kami akan menjaganya," sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan laba bank emiten bank
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top