Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bank Syariah Hasil Merger Bernama Amanah, Bagaimana Prospeknya?

Terlepas dari soal nama nanti, bagaimana prospek bank hasil merger 3 bank syariah BUMN?
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  06:30 WIB
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Hasil merger 3 bank syariah BUMN bakal diberi nama Bank Amanah.

Sumber Bisnis menyebutkan informasi yang beredar mengenai nama bank hasil merger Bank Amanah adalah benar. Namun, tidak menutup kemungkinan ada pilihan nama lainnya.

"Status terakhir [soal nama Bank Amanah] betul, tapi bisa jadi ganti [Bank] Syariah Indonesia," katanya pada Kamis (22/10/2020).

Dalam ringkasan rancangan penggabungan antara BRISyariah, Bank Syariah Mandiri, dan BNI Syariah menyatakan bahwa nama bank tidak akan langsung diubah pasca merger.

Pada Tanggal Efektif Penggabungan, Bank Hasil Penggabungan akan tetap menggunakan nama yang ada pada saat ini, yaitu BRIS dan berkantor pusat di kantor pusat BRIS pada saat ini.

Apabila BRISyariah berencana untuk mengubah namanya atau melakukan perubahan kantor pusat, maka akan dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dengan memperhatikan keputusan para pemegang saham dalam RUPS.

Terlepas dari namanya nanti, bagaimana prospek bank hasil merger tersebut?

Setelah merger, Bank Mandiri akan menjadi pengendali dengan kepemilikan saham sebesar 51,2 persen. Beredar kabar pula, Hery Gunardi, yang semula menjabat sebagai Wakil Direktur Bank Mandiri bakal mengisi posisi direktur utama.

Pengamat perbankan dari Universitas Bina Nusantara Doddy Ariefianto menilai dominasi Bank Mandiri bakal tampak pada bank syariah BUMN hasil merger, baik dari porsi saham maupun posisi direksi.

Pasalnya, menurut dia, dalam sebuah penggabungan usaha, porsi kepemilikan saham biasanya akan seimbang dengan ekuitas yang dimiliki. Hal demikian biasanya juga akan tercermin pada komposisi manajemen pada entitas baru hasil penggabungan.

Nasabah mengambil uang di Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Mandiri di Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Dengan begitu, menjadi wajar Bank Mandiri menjadi mayoritas pada bank syariah BUMN hasil merger. Sebab, ekuitas Bank Mandiri Syariah menjadi yang terbesar di antara tiga bank syariah BUMN peserta penggabungan.

"Kita lihat dari 3 bank, yang terbesar adalah Bank Mandiri Syariah. Kalau di konsolidasi hal itu biasa, porsi saham akan dimiliki secara proporsional menyesuaikan siapa yang terbesar," katanya, Rabu (21/10/2020).

Seusai prospektus penggabungan ketiga bank syariah dirilis pada Rabu (21/10/2020), harga saham BRIS terkoreksi 7 persen dari hari sebelumnya menjadi Rp1.395. Pada perdagangan hari ini, saham BRIS kembali turun 6,81 persen ke Rp1.300.

BRIS juga terkena atas bawah atau auto reject bawah (ARB) yakni batas maksimum penurunan saham. Meskipun demikian, harga ini masih lebih tinggi 293,94 persen dari posisi akhir tahun lalu (year to date).

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan harga saham BRIS terdongkrak cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Meskipun ada gejolak depresiasi, tetapi hal tersebut lebih dikarenakan profit taking dari para investor ritel.

"Iya ada turun sedikit. Itu hanya akibat profit taking karena harganya sudah naik sangat tinggi dan sangat wajar," katanya.

Di sisi lain, kepemilikan saham publik di BRIS pasca-merger kelak hanya berkisar 4 persen. Hans berpendapat komitmen untuk tetap menjadikan BRIS sebagai perusahaan terbuka akan dikedepankan oleh pemerintah karena pasar saham juga membutuhkan entitas bank syariah kuat di pasar modal.

Kantor BRI Syariah/brisyariah.co.id

Untuk meningkatkan kepemilikan saham, bank hasil penggabungan bisa melepas sebagian saham pemilik existing ada ke publik. Di samping itu, jika rencana rights issue terealisasi, maka ada potensi masyarakat dapat meningkatkan sahamnya sesuai batas minimum atau lebih besar.

"Dan tentu bank ini tetap akan jadi perusahaan terbuka. Free float akan tetap dijaga. Potensinya pun juga bagus untuk pasar saham yang pemerintah juga punya kepentingan," sebutnya.

Adapun, dalam prospektus merger bank syariah BUMN disebutkan dari sisi prospek bank hasil merger, manajemen dari bank-bank yang akan digabung optimistis akan ada dampak positif untuk bank hasil merger nanti.

Bank hasil penggabungan diyakini bisa menjadi champion bank syariah dan dapat meraih potensi pasar syariah, yang sampai dengan saat ini belum tersentuh.

Dengan lebih dari 200 juta populasi muslim di Indonesia dan penetrasi keuangan syariah yang masih rendah pada saat ini yaitu kurang dari 7 persen, menunjukkan bahwa potensi bank syariah ke depannya masih sangat besar.

"Dengan adanya penggabungan ini, maka diharapkan Bank Hasil Pengabungan akan memiliki permodalan dan kapasitas yang memadai untuk mengambil potensi tersebut," demikian yang tertulis dalam prospektus.

Selain itu, bank hasil merger juga dipercaya memiliki pertumbuhan pesat pada saat ekonomi Indonesia membaik, dengan didukung oleh perencanaan yang baik, jaringan distribusi yang luas, permodalan yang semakin kuat, teknologi dan kualitas sumber daya manusia yang semakin baik.

Bank ini pun memiliki visi menjadi salah satu dari 10 bank syariah terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar secara global dalam waktu 5 tahun ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank syariah bri syariah bank bumn bank bumn syariah merger bank syariah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top