Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kredit Minus, Rekor sejak 1998. Fungsi Intermediasi Bank Tak Berjalan Baik?

Berdasarkan Analisis Uang Beredar Bank Indonesia, pertumbuhan kredit pada akhir September 2020 adalah sebesar minus 0,4 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 28 Oktober 2020  |  17:30 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan Rp.100.000 di salah satu Bank yang ada di Jakarta, Senin (4/6). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan menghitung uang pecahan Rp.100.000 di salah satu Bank yang ada di Jakarta, Senin (4/6). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pertumbuhan kredit yang negatif pada kuartal III/2020 mengindikasikan perbankan selektif dalam menyalurkan pembiayaan dan menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.

Berdasarkan Analisis Uang Beredar Bank Indonesia, pertumbuhan kredit pada akhir September 2020 adalah sebesar minus 0,4 persen dibandingkan dengan periode sama tahun lalu. Realisasi ini merosot dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,6 persen YoY.

Di satu sisi, penghimpunan dana masyarakat per kuartal ketiga tahun ini tercatat Rp6.383,8 triliun atau tumbuh 12,1 persen secara tahunan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan, dalam menjalankan fungsi intermediasi, ada dua sisi yang perlu diperhatikan yakni penyerapan dana masyarakat dan penyaluran kredit.

Meskipun penyaluran kredit tumbuh negatif, fungsi intermediasi perbankan masih terhitung baik. Buktinya, bank tetap menyerap dana masyarakat di saat kredit rendah. Penyaluran kredit yang rendah pun mengindikasikan bank hati-hati dalam mengelola dana masyarakat.

"Bank justru tidak menjalankan fungsinya secara baik kalau secara tidak hati-hati menyalurkan kredit yang berisiko di tengah pandemi," katanya kepada Bisnis, Rabu (28/10/2020).

Piter pun menilai kredit tetap akan sulit tumbuh pada periode selanjutnya. Pertumbuhan kredit masih akan rendah dengan kemungkinan negatif.

Menurutnya, selama pandemi masih berjangkit, penyaluran kredit akan sulit terkerek. Pandemi pun diperkirakan baru benar-benar akan berakhir paling cepat pada akhir tahun depan. Artinya, pertumbuhan kredit masih akan rendah.

"Tergantung penanggulangan pandemi. Kalau pandemi berakhir cepat, pertumbuhan kredit akan cepat bangkit," sebutnya.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Samual mengatakan pertumbuhan kredit yang semakin merendah hingga kuartal III/2020 juga berkaitan dengan perbankan yang lebih berkonsentrasi dalam melakukan restrukturisasi kredit.

Pada kuartal IV/2020, pengajuan restrukturisasi kredit dapat dikatakan semakin minim sehingga membuka peluang pertumbuhan kredit.

Apalagi, lanjutnya, secara musiman, permintaan kredit pada akhir tahun selalu lebih tinggi daripada periode sebelumnya. Kondisi ini pun kemungkinan akan terjadi pada kuartal IV/2020 tahun ini sehingga diproyeksi kredit akan bertumbuh.

"Akan ada peningkatan sedikit, pengaruh musiman karena akhir tahun secara musiman ada kenaikan, tapi tetap tumbuh rendah," sebutnya.

Sejumlah sektor yang saat ini masih bisa diandalkan untuk penyaluran kredit adalah sektor korporasi yang bergerak di bidang infrastruktur, consumer goods, perkebunan, hingga kesehatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit penyaluran kredit fungsi intermediasi
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top