Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tahun Ini Bisa Turun hingga 35 Persen, Bagaimana Laba Bank 2021?

Berdasarkan data OJK per September 2020, total penurunan laba sudah mencapai 27,6 persen.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 10 November 2020  |  17:58 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemulihan kemampuan bank mencetak laba pada tahun depan diperkirakan masih akan berat lantaran beban pandemi masih tersisa. Perbankan pun masih perlu bertahan dengan bunga margin bersih atau net interest margin (NIM) rendah setidaknya sampai kuartal ketiga tahun depan.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bersih bank umum turun 21,83 persen secara tahunan per Agustus tahun ini. Bahkan, berdasarkan data terbaru OJK September 2020, total penurunan laba sudah mencapai 27,6 persen.

Jika menyelisik lebih dalam, koreksi laba ini terjadi pada semua bank umum kelompok usaha (BUKU). Adapun, koreksi laba paling dalam terjadi pada BUKU I, yakni -32 persen yoy, sedangkan paling rendah pada BUKU III yakni -15,57 persen.

Adapun, net interest margin (NIM) perbankan terus turun dari 4,43 persen per Agustus 2020 menjadi 4,29 persen per September 2020. Posisi ini jauh dari NIM tahun lalu yang berada dikisaran 4,9 persen.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan ekspektasi pemulihan profitabilitas perbankan tahun depan masih perlu dievaluasi.

Meski pandemi diproyeksikan berakhir dengan distribusi vaksi, tetapi kinerja ekonomi yang masih lemah sehingga belum dapat menstimulasi pendapatan bunga maupun fee based.

"Tahun depan masih tetap berat bagi perbankan. Mungkin untuk laba yang mulai menyamai 2019 itu bakal terjadi pada 2022, sedangkan net interest margin lebih baik seperti 2019 baru mulai terjadi pada kuartal ketiga atau keempat tahun depan," katanya, Selasa (10/11/2020).

Trioksa menjelaskan kinerja ekonomi masih sangat terbatas sehingga kurang menstimulasi permintaan kredit investasi dengan fasilitas pinjaman besar.

Di samping itu, dia menyebutkan perbankan sendiri masih akan selektif dalam mencari ceruk pembiayaan agar rasio kredit bermasalah tidak semakin terkerek.

Apalagi, rasio kredit bermasalah saat ini masih tergolong rendah hanya karena relaksasi restrukturisasi, bukan karena kinerja riil debitur.

Di samping itu, dia menyebutkan dana masyarakat yang tumbuh saat ini masih banyak didominasi oleh dana mahal yang sebenarnya masih menekan margin bank.

"Untuk pendapatan transaksi, khususnya dari korporasi pun juga belum akan kuat lantaran kegiatan ekonomi yang belum maksimal," sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank perbankan OJK kinerja bank laba bank
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top