Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Holding Ultra Mikro Diramal Kerek Agregasi UMKM

Ketiga BUMN yang akan diintegrasikan ke dalam holding tersebut yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 08 Maret 2021  |  13:42 WIB
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar
Logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terpasang di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). ANTARA FOTO - Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA - Pembentukan holding ultra mikro yang melibatkan tiga badan usaha milik negara (BUMN) dipandang relevan untuk meningkatkan agregasi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di masa pemulihan ekonomi nasional pada tahun ini.

Ketiga BUMN yang akan diintegrasikan ke dalam holding tersebut yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Adapun, BRI akan menjadi induk dari integrasi ekosistem untuk ultra mikro ini.

Direktur Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha kecil Menengah (LLP-KUKM) atau Smesco Indonesia Leonard Theosabrata menyampaikan agregasi pelaku UMKM khususnya segmen mikro saat ini masih sangat rendah.

Padahal, pelaku mikro membutuhkan agregasi sehingga skala ekonomi produksinya dapat lebih baik untuk menjawab potensi pemulihan ekonomi tahun ini.

"Ultra mikro ini harus diagregasi, kalau mereka kecil-kecil dan terpisah terus maka akan selalu sulit dapat pembiayaan lebih besar," katanya dalam keterangan tertulisnya, Senin (8/3/2021).

Dia melanjutkan pembentukan holding yang dipimpin oleh BRI akan sangat memantik optimisme pelaku UMKM. Pasalnya, BRI cukup berhasil dalam memberi pendampingan dengan beban pinjaman yang sangat terjangkau.

Bahkan sebagian besar kredit usaha rakyat (KUR)) disalurkan oleh BRI dan pelaku UMKM sudah mampu naik ke kelas yang lebih baik tanpa perlu memberatkan fiskal negara.

Dia menyampaikan pelaku UMKM saat ini juga membutuhkan pendampingan yang mampu membawa mereka go digital. Pembiayaan tanpa pendampingan go digital dinilainya justru tidak akan banyak membantu pemulihan operasional pada 2021.

"Kami pun juga sebenarnya mencoba untuk terus mendorong pelaku UMKM memanfaatkan platform digital agar mereka mendapat akses pasar lebih luas," katanya.

Sementara itu, Menteri BUMN Erick Thohir sebelumnya mengatakan pemerintah berkomitmen mendukung produk dalam negeri. Namun, keberpihakan pemerintah juga perlu didukung dengan adanya fondasi kuat terkait kapabilitas, rekam jejak dan spesialisasi pengusaha dalam negeri yang baik.

Menurut Erick, pemerintah sedang berupaya memperbaiki kondisi perseroan pelat merah agar terbuka membangun ekosistem rantai pasok dengan pengusaha dalam negeri, khususnya UMKM. Ada tiga hal penting yang diperbaiki, yaitu infrastruktur, pendanaan dan akses pasar bagi pengusaha dalam negeri.

Salah satu dukungan tersebut berupa pembentukan perusahaan induk (holding) ultra mikro yang beranggotakan BRI, PNM dan Pegadaian. Proses holding ditargetkan rampung pada kuartal III tahun ini.

Holding BUMN untuk ultra mikro bertujuan untuk mendukung visi pemerintah dalam memberdayakan usaha ultra mikro, mempercepat laju inklusi keuangan, pembiayaan berkelanjutan, serta menyasar 57 juta pelaku usaha ultra mikro yang mayoritas belum tersentuh layanan perbankan.

Melalui integrasi ekosistem, rasio pelaku usaha ultra mikro yang tidak terlayani lembaga keuangan formal dapat diturunkan dari 68 persen pada 2018 menjadi 42 persen pada 2024.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bri pnm pegadaian holding bumn
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top