Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saran Faisal Basri: Ketimbang Holding, BRI Lebih Baik Caplok Bank Komersial

Menurut Faisal Basri ketimbang melakukan holding, lebih baik BRI mengakuisisi bank-bank komersial untuk memperbesar skala perusahaan
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 April 2021  |  08:45 WIB
Saran Faisal Basri: Ketimbang Holding, BRI Lebih Baik Caplok Bank Komersial
Pengamat Ekonomi Faisal Basri di Jakarta, Kamis (9/11). - JIBI/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom senior Faisal Basri menyampaikan pandangannya terhadap rencana pembentukan holding ultra mikro antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).

Menurutnya, ketimbang melakukan holding, lebih baik BRI mengakuisisi bank-bank komersial untuk memperbesar skala perusahaan. Dia menilai holding ultra mikro tidak akan memberi nilai tambah bagi perusahaan.

“BRI itu untuk menjadi ujung tombak financial inclusion lebih baik mengambil alih bank-bank komersial, seperti Bank Muamalat, Bank Bukupoin, dan bank-bank lainnya supaya konsolidasi perbankan terjadi,” kata Faisal seperti dilansir Tempo.co, Kamis (8/4/2021).

Menurut Faisal, Kementerian BUMN harus memiliki kajian yang jelas ihwal rencana holding ultra mikro. Sebab, rencana rencana tersebut justru disinyalir bakal membawa mudarat bagi masyarakat, khususnya Pegadaian.

Faisal menduga menduga nasabah perseroan akan dipaksa memiliki rekening BRI, sehingga harus terjadi proses pembukaan rekening baru. Kebijakan ini acap terjadi saat perusahaan-perusahaan pelat merah saling berinergi.

Selain itu, holding ultra mikro memiliki risiko karena dilakukan terhadap tiga entitas yang memiliki karakteristik sangat berbeda. BRI, misalnya, memiliki tugas melayani segmen UMKM yang sudah terbuka terhadap akses bank dan segmen korporasi.

Sementara itu, PNM melayani perusahaan yang relatif baru dan belum memiliki akses terhadap perbankan sehingga memerlukan jasa modal ventura.

Adapun, Pegadaian sebagai perusahaan pelat merah memiliki tugas membantu masyarakat yang mengalami kesulitan likuiditas untuk memberikan solusi jangka pendek.

Faisal menambahkan keinginan Kementerian BUMN untuk melakukan holding justru bertentangan dengan ide untuk memajukan usaha kecil dan menengah secara total.

“Karena seolah-olah persoalan UMKM hanya keuangan, khususnya akses terhadap kredit,” ujarnya.

Faisal mempertanyakan efektivitas holding ultra mikro di tengah aksi perbankan mengurangi kantor-kantor cabangnya. Aksi korporasi ini dikhawatirkan membuat Pegadaian semakin sulit menyentuh masyarakat setelah holding terbentuk.

Lebih lanjut, Faisal menduga holding ultra mikro hanya melanggengkan kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Dia pun menyangsikan klaim sejumlah pihak yang menyebut holding bisa menurunkan suku bunga pinjaman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

umkm faisal basri kredit ultra mikro Holding Ultra Mikro

Sumber : Tempo.co

Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top