Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kepesertaan Rendah, Ini Strategi Bos BPJS Ketenagakerjaan untuk Meningkatkan

BPJS Ketenegakerjaan mencatat dari 90 juta angkatan kerja yang berhak menjadi peserta, badan baru meraih 27,8 juta orang sebagai peserta aktif.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 16 Mei 2021  |  12:32 WIB
Dedi (kedua dari kiri) peserta BP Jamsostek Cabang Lubuk Linggau memaparkan peristiwa kecelakaan kerja yang dialaminya hingga membuatnya kehilangan kaki kiri. Bisnis/Dinda Wulandari
Dedi (kedua dari kiri) peserta BP Jamsostek Cabang Lubuk Linggau memaparkan peristiwa kecelakaan kerja yang dialaminya hingga membuatnya kehilangan kaki kiri. Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan menyebutkan peningkatan kepersertaan menjadi pekerjaan besar yang harus dituntaskan. 

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Anggoro Eko Cahyo menjelaskan saat ini terdapat 128,45 juta orang angkatan kerja di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 juta orang di antaranya memenuhi kriteria atau berhak untuk menjadi peserta jaminan sosial ketenagakerjaan.

Dari jumlah data itu, 48,64 juta pekerja telah memiliki kartu BPJS Ketenagakerjaan. Meski demikian tidak seluruhnya berstatus aktif. Hanya 27,8 juta orang pekerja yang masih membayar iuran secara rutin. Dengan capaian ini cakupan peserta aktif baru 30,3 persen dari total pekerja yang berhak.

Untuk itu, kata dia, BPJS Ketenagakerjaan menargetkan jumlah peserta aktif dapay mencapai 37 juta orang hingga akhir tahun nanti. Anggoro pun menjelaskan bahwa pihaknya memiliki sejumlah strategi untuk menggenjot kepesertaan.

"Targetnya adalah dengan menyasar para pekerja transportasi online, pekerja mandiri. Juga online merchant yang begitu banyak dan belum menjadi peserta," ujar Anggoro dalam diskusi secara daring dengan para pemimpin redaksi media, Senin (10/5/2021).

Berdasarkan data Gabungan Aksi Roda Dua (GARDA) Indonesia, pada awal kuartal II/2020 sudah terdapat 4 juta pengemudi ojek online dan jumlahnya berpotensi terus meningkat saat ini. Jumlah tersebut menjadi sasaran potensial bagi badan layanan publik itu untuk bisa mendongkrak tingkat kepesertaan.

Anggoro menjabarkan bahwa salah satu penyebab kurangnya jumlah peserta dan tingkat kepesertaan aktif adalah minimnya pengetahuan para pekerja terkait manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan. Faktor kemudahan pendaftaran pun masih perlu dievaluasi.

"Jumlah peserta yang belum bertambah ini salah satunya karea mereka belum banyak mendengar kemudahan-kemudahan pada saat klaim, karena asuransi stigmanya gampang iurnya susah klaimnya," ujar Anggoro.

Upaya menggaet kalangan pengemudi ojek online akan berjalan paralel dengan perluasan ke kelompok-kelompok pekerja lainnya.

Di segmen penerma upah (PU), BPJS Ketenagakerjaan akan meningkatkan cakupan ke beberapa sektor, seperti usaha kecil dan menengah (UKM) serta koperasi, pekerja perkebunan, pekerja non aparatur sipil negara, hingga penerima kredit usaha rakyat (KUR). Terdapat 29,08 juta orang yang potensial menjadi peserta di segmen ini.

Lalu, di segmen bukan penerima upah (BPU), selain pengemudi ojek online juga menyasar para petani, peserta vokasi, nelayan, hingga badan usaha milik desa (BUMDes). Terdapat 51,12 juta orang yang potensial menjadi peserta di segmen ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BP Jamsostek sjsn bpjs ketenagakerjaan
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top