Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target Produksi 1 Juta Barel per Hari, Bisnis Asuransi Migas Dinilai Prospektif

Sebagian pihak kerap menganggap migas sebagai sunset industry. Padahal, migas dinilai tetap menjadi penyangga berbagai aktivitas manusia.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 14 Juli 2021  |  19:34 WIB
Karyawan beraktifitas di dekat deretan logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan beraktifitas di dekat deretan logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) di Jakarta, Selasa (22/9/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Lini bisnis asuransi energi dinilai masih memiliki prospek yang baik dengan terus berjalannya aktivitas produksi dan adanya proyeksi peningkatan konsumsi. Bisnis proteksi pun dinilai akan kecipratan rezeki dari target produksi 1 juta barel minyak mentah per hari.

Kepala Divisi Strategi Bisnis, Manajemen Risiko dan Perpajakan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Eka Bhayu Setta menjelaskan bahwa sebagian pihak kerap menilai migas sebagai sunset industry. Padahal, menurutnya, migas tetap menjadi penyangga berbagai aktivitas manusia.

SKK Migas pun menilai bahwa dalam 10 tahun ke depan konsumsi migas di Indonesia masih cukup besar, sehingga produksinya perlu mendukung kebutuhan itu. Selain itu, Presiden Joko Widodo pun telah mematok target produksi 1 juta barel minyak mentah per hari pada 2030 yang harus dikejar berbagai pihak.

"Produksi itu bukan proyek semalam kayak Candi Prambanan, produksinya akan terus berjalan dan memerlukan proteksi. Kami menilai bisnis asuransi [energi] dalam 10 tahun ke depan masih akan menggeliat," ujar Bhayu pada Rabu (14/7/2021).

Manager Financial Risk and Insurance PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Deddy Adrian pun menilai bahwa proyek-proyek di sektor hulu migas memiliki risiko yang tinggi dan melibatkan nilai investasi yang besar. Hal tersebut membuat keberadaan asuransi menjadi penting dalam berbagai aktivitas produksi migas.

"Dengan adanya program 1 juta barel kami berharap kondisi ini [produksi] terus meningkat, kami siap untuk meng-cover jika terjadi risiko sehingga program itu berjalan dengan baik atau jika terjadi kerugian bisa kami atasi," ujar Deddy.

Sementara itu, Direktur Bisnis Strategis PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Syah Amondaris menjelaskan bahwa pihaknya selaku bagian dari Konsorsium Asuransi Proyek Konstruksi SKK Migas-KKKS periode 2020–2022 menjelaskan bahwa tren pertanggungan asuransi sempat menurun hingga 2019.

Menurutnya, penurunan pertanggungan terjadi seiring berkurangnya proses drilling sejak 2010, berkaitan dengan turunnya harga minyak. Aris, panggilan akrabnya, menyebut bahwa program produksi 1 juta barel per hari turut memengaruhi kenaikan pertanggungan konsorsium untuk periode 2020–2022.

Dia memproyeksikan bahwa migas masih akan menjadi objek pertanggungan yang prospektif bagi asuransi umum. Adanya langkah untuk beralih ke energi terbarukan pun tidak menggeser posisi migas dalam konteks proteksi asuransi energi.

"Kalau bicara energi terbarukan masih lama implementasinya. Kami dari asuransi melihat program yang dilakukan [pengembangan energi terbarukan] tidak membuat industri asuransi turun karena masih berkenaan dengan aktivitas migas," ujar Aris.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi migas aaui asuransi umum
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top