Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Pinjol Sudah Terlalu Ramai, Investor Masih Minat?

Industri fintech pendanaan bersama atau peer-to-peer (P2P) lending kembali menjadi sorotan, setelah salah satu platform UangTeman dikeluhkan.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 17 Desember 2021  |  05:00 WIB
Industri Pinjol Sudah Terlalu Ramai, Investor Masih Minat?
Ilustrasi pinjaman online. Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Industri fintech pendanaan bersama atau peer-to-peer (P2P) lending kembali menjadi sorotan, setelah salah satu platform yang telah berstatus legal atau berizin OJK bernama UangTeman dikeluhkan karyawan atas dugaan mismanajemen.

UangTeman dinilai mulai goyang sejak gagal merealisasikan putaran pendanaan Seri B pada kisaran Oktober 2019, sehingga tak siap menghadapi krisis pandemi Covid-19 selama 2020. Terkini, perwakilan manajemen mengungkap tengah mencoba opsi mencari investor baru agar UangTeman bisa survive.

Di tengah kompetisi industri fintech P2P lending yang semakin ketat dengan 104 platform di dalamnya, apakah masih ada investor yang berminat?

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah optimistis bahwa pemain industri yang masih butuh suntikan modal seperti UangTeman tetap menarik buat investor, terutama karena platform telah mendapatkan tanda berizin dari otoritas.

"Sekarang ini [OJK] masih menerapkan masa moratorium pendaftaran perizinan penyelenggara baru. Jadi yang bisa dipilih [investor] adalah mendukung platform eksisting. Tapi saat nanti moratorium sudah dicabut, saya lihat ada yang masih berminat membangun platform sendiri, atau masuk lewat calon penyelenggara yang baru akan mengurus izin," ujar Kus kepada Bisnis, Kamis (16/12/2021).

Kus menggambarkan bahwa beberapa stakeholder mencoba masuk ke bisnis P2P lending karena melihat credit gap di Indonesia yang masih lebar, masih Rp1.650 triliun dari kebutuhan sebesar Rp2.650 triliun, atau baru mampu terisi sekitar Rp1.000 triliun oleh lembaga keuangan konvensional.

Potensi pertumbuhan industri pinjaman digital pun masih jauh dari titik jenuh. Terlebih, pengalaman pandemi Covid-19 lalu membuktikan industri ini cepat bangkit dari krisis, karena bisa menangkap peluang lebih cepat lewat teknologi.

Terpenting, platform bisa membuktikan dirinya bisa survive, menjamin tata kelola yang baik, punya kemampuan bersaing dengan platform lain, serta memiliki inovasi yang membuatnya berbeda atau bisa mengambil peluang yang belum dioptimalkan platform lain.

"Dalam waktu dekat, semua pemain legal sudah berizin. Hal ini membuat confidence para stakeholder yang ingin melibatkan platform fintech lending untuk kolaborasi atau untuk diakuisisi bakal menjadi lebih baik. Apalagi, mereka yang punya ekosistem digital, misalnya seperti merchant pelaku UKM. Suatu saat, setiap ekosistem itu pasti butuh layanan pembiayaan," ungkapnya.

Lewat segala potensi yang ada, Kus percaya setiap platform P2P lending yang bisa menjaga tata kelola dan operasional sebaik mungkin, punya kesempatan mulai bisa membukukan profit setidaknya 3,5 tahun sejak berdiri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) CEO Mandiri Capital Indonesia sekaligus Eddi Danusaputro menekankan, bahwa platform fintech di seluruh klaster sebenarnya masih sangat menarik buat investor.

"Selama kebutuhan masyarakat di Indonesia masih ada, mau itu fintech di bidang payment, wealth-tech, insurtech, apalagi lending, kalau ada kesempatan dan cocok, pasti diambil [investor]. Terlebih, kalau valuasinya belum terlalu besar, tapi bisa membuktikan model bisnisnya prospektif. Hanya saja, perlu diingat setiap investor itu punya tujuan dan preferensi yang berbeda-beda," jelasnya kepada Bisnis.

Terkhusus industri fintech yang sudah ramai seperti P2P lending, Eddi mengungkap bahwa investor biasanya akan melihat perbandingan kinerja platform dengan kinerja kompetitor, serta kontribusinya terhadap industri dalam periode waktu tertentu.

"Kalau dalam 2-4 tahun belum perform atau belum bisa mencapai target pangsa pasar tertentu di tengah ketatnya persaingan dengan para kompetitor, berarti ada yang salah. Investor akan meminta para founder dan tim untuk mempersiapkan strategi baru. Karena kami ini kan bukan cuma invest, tapi juga butuh exit di kemudian hari," tambahnya.

Eddi mengungkap bahwa setidaknya ada tiga hal mendasar yang kerap menjadi indikator para investor untuk menilai kinerja suatu platform startup, tak terkecuali di sektor fintech. Antara lain, costumer based, pengguna aktif bulanan atau monthly active users, dan potensi pendapatan yang bisa diterima platform per setiap pengguna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

OJK fintech
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top