Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Transaksi LCS Naik Signifikan, Efek Sentimen Tapering The Fed Jadi Pendorong

Nilai ekspor Indonesia yang meningkat signifikan sejalan dengan kenaikan harga komoditas global pada semester II/2021 turut mendorong kenaikan transaksi LCS.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 16 Februari 2022  |  18:41 WIB
Warga melintas di depan Kantor Cabang Luar Negeri BNI Tokyo. BNI menjadi satu-satunya bank asal Indonesia yang ditunjuk oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Jepang sebagai Bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) sehingga dapat melayani Local Currency Settlement (LCS) atau fitur layanan yang memudahkan transaksi antar negara menggunakan mata uang lokal.  -  Dok. BNI
Warga melintas di depan Kantor Cabang Luar Negeri BNI Tokyo. BNI menjadi satu-satunya bank asal Indonesia yang ditunjuk oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Jepang sebagai Bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) sehingga dapat melayani Local Currency Settlement (LCS) atau fitur layanan yang memudahkan transaksi antar negara menggunakan mata uang lokal. - Dok. BNI

Bisnis.com, JAKARTA - Transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency settlement/LCS) tercatat naik signifikan menjadi US$2,53 miliar pada 2021, dari tahun sebelumnya sebesar US$797 juta.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan kenaikan volume transaksi LCS pada 2021 yang tinggi didorong salah satunya oleh pembukaan akses fasilitas LCS dengan China.

Nilai ekspor Indonesia yang meningkat signifikan sejalan dengan kenaikan harga komoditas global pada semester II/2021 turut mendorong kenaikan transaksi LCS.

“Dengan berpartner dengan China, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia setelah Asean, maka volume LCS secara langsung akan meningkat pula,” katanya kepada Bisnis, Rabu (16/2/2022).

Selain itu, menurut Josua, faktor lainnya adalah dengan adanya sentimen pengetatan moneter Amerika Serikat (AS) yang meningkat. Kondisi ini mendorong ekspektasi penguatan dolar AS.

“Sepanjang tahun, alhasil, para pengguna LCS meningkat untuk menghindari volatilitas yang tinggi dari dollar AS,” jelas Josua.

Adapun, pada tahun ini, BI menargetkan transaksi LCS tumbuh sebesar 10 persen.

Josua menyampaikan, agar fasilitas LCS dapat digunakan secara optimal ke depan bagi para pelaku usaha, otoritas terkait perlu memberikan beberapa fasilitas tertentu bagi perbankan yang menyelenggarakan fasilitas LCS.

Hal ini dilakukan agar bank tersebut mampu mendorong lebih banyak nasabahnya untuk menggunakan fasilitas LCS.

“Dengan kebijakan tersebut, diharapkan penggunaan mata uang menjadi lebih terdiversifikasi, sehingga rupiah dapat menjadi lebih stabil di jangka panjang,” tuturnya.

Pada kesempatan berbeda, Ekonom Senior Chatib Basri menyampaikan bahwa implementasi penggunaan LCS merupakan inisiatif yang sangat baik dari BI.

Dia memandang, kerja sama diversifikasi penggunaan mata uang secara bilateral menjadi penting, terutama dengan China, Jepang, Malaysia, dan Thailand, yang merupakan negara mitra dagang utama Indonesia.

Kerja sama ini akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat, yang selama ini penggunaannya mendominasi transaksi, terutama pada perdagangan dan investasi.

Selain itu, ke depan pun diperkirakan penggunaan mata uang China, Yuan, akan semakin meningkat, sejalan dengan mata uang negara itu akan menjadi mata uang cadangan (reserve currency) di dunia.

“Ini adalah satu step yang harus dimanfaatkan karena mau tidak mau, China dengan renminbi-nya, akan menjadi reserve currency. Step langkah yang dilakukan BI sudah sangat baik,” kata Chatib.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor bank indonesia mata uang LCS (Local Currency Settlement)
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top