Yakin Dampak Tapering Global Terkendali, Bos BI Sebut Indonesia Beruntung

Menurut Gubernur BI, Indonesia beruntung karena koordinasi antara pemerintah, BI, OJk di dalam KSSK sangat baik. Tidak hanya dalam percepatan vaksinasi, tapi juga dalam kebijakan fiskal dan moneter di Tanah Air dijalankan dengan baik.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4/2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Rabu (29/4/2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Pertemuan pertama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral Negara G20 pada 17-18 Februari 2022 akan fokus membahas enam topik.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, salah satu topik yang dibahas yaitu bagaimana secara bersama merumuskan kebijakan normalisasi dari negara maju dan negara berkembang.

“Bagaimana normalisasi proses dari kebijakan negara-negara maju khususnya tetap dapat mendukung upaya bersama untuk pemulihan ekonomi global,” katanya dalam Seminar on Strategic Issues in G20: Exit Strategy & Scarring Effect, Kamis (17/2/2022).

Perry menyampaikan, normalisasi kebijakan negara maju akan menjadi risiko bagi pemulihan ekonomi khususnya bagi negara Emerging Markets. Dia memperkirakan, the Fed akan menaikkan suku bunga atau Fed Fund Rate sebanyak empat kali tahun ini.

Menurutnya, proses normalisasi kebijakan perlu dilakukan dengan kalibrasi yang tepat, direncanakan dengan baik dan dikomunikasikan dengan baik, oleh negara maju maupun berkembang.

Untuk menghadapi dampak dari normalisasi kebijakan negara maju, imbuh Perry, negara berkembang harus memperkuat daya tahan agar normalisasi kebijakan tetap dapat mendukung pemulihan dan stabilitas ekonomi.

Oleh karena itu, sangat diperlukan bauran kebijakan yang baik secara nasional, juga oleh bank sentral.

“Kita beruntung di Indonesia bahwa koordinasi antara pemerintah, BI, KSSK [Komite Stabilitas Sistem Keuangan] dan berbagai pihak sangat baik, tidak hanya dalam percepatan vaksinasi, tapi juga dalam kebijakan fiskal, moneter, dan KSSK secara baik,” tutur Perry.

BI sendiri, lanjutnya, menyiapkan lima bauran kebijakan, di antaranya, kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, serta inklusi ekonomi dan keuangan.

Kebijakan moneter akan diarahkan untuk mendukung stabilitas, sementara empat kebijakan lainnya diarahkan untuk mendukung pertumbuhan.

Dalam proses normalisasi kebijakan bank sentral, BI akan melakukan stabilitas nilai tukar, berkoordinasi erat dengan Kementerian Keuangan agar kenaikan suku bunga US Treasury tetap mendukung stabilitas sistem keuangan Indonesia.

“Likuiditas juga secara bertahap kami kurangi, setelah kami melakukan quantitative easing yang sangat besar 5,6 persen dari PDB dalam 2 tahun terakhir, kami akan mulai menaikkan giro wajib minimum secara bertahap,” kata bos BI dalam event G20 tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper