Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Pastikan Likuiditas Perbankan Tetap Longgar Meski GWM Naik

Gubernur Bank Indonesia perry Warjiyo menegaskan likuiditas perbankan pada tahun ini akan tetap longgar meski GWM dinaikkan hingga 3 persen secara bertahap.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Selasa (14/4/2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Selasa (14/4/2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) akan mulai melakukan normalisasi kebijakan likuiditas dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan mulai 1 Maret 2022.

Gubernur Bank Indonesia perry Warjiyo menegaskan likuiditas perbankan pada tahun ini akan tetap longgar meski GWM dinaikkan hingga 3 persen secara bertahap.

Pasalnya, BI telah melakukan suntikan likuiditas atau quantitative easing ke perbankan dalam jumlah yang besar, yaitu Rp726,57 triliun pada 2020 dan Rp147,83 triliun pada 2021.

Quantitative easing tersebut telah menambahkan likuiditas perbankan tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang mencapai 35,12 persen pada Desember 2021.

Perry mengatakan, rasio AL/DPK tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi sebelum pandemi Covid-19 yang hanya mencapai 21 persen.

Sementara itu, kenaikan GWM tahun ini akan menurunkan rasio AL/DPK dari 35,12 persen menjadi 30 persen, yang artinya likuiditas di perbankan akan tetap tinggi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

“Dengan kenaikan GWM, AL/DPK memang akan turun, tapi dari 35 persen ke 30 persen, 30 persen ini masih jauh lebih tinggi dari 21 persen,” kata Perry dalam FGD bersama dengan Pemimpin Redaksi Media, Rabu (24/2/2022).

Perry menyampaikan, BI memastikan kenaikan GWM tidak akan mempengaruhi kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit dan membeli SBN untuk pembiayaan APBN.

“Kita sudah mulai menempuh langkah-langkah menuju normalisasi likuiditas, tapi dengan tetap memastikan kemampuan perbankan untuk menyalurkan kredit ke sektor riil dan membeli SBN untuk APBN,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper