Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bank Mandiri (BMRI) Raup Laba Rp20 Triliun Semester I/2022, Melesat 61,7 Persen!

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) membukukan laba bersih Rp20,2 triliun atau tumbuh 61,7 persen yoy pada semester I/2022.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 28 Juli 2022  |  15:48 WIB
Bank Mandiri (BMRI) Raup Laba Rp20 Triliun Semester I/2022, Melesat 61,7 Persen!
Pegawai melakukan transaksi menggunakan Livin by Mandiri di Jakarta, Selasa (26/7/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp20,2 triliun atau melesat 61,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada semester I/2022.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan Bank Mandiri mencatatkan kinerja keuangan progresif sampai kuartal II/2022 dan berhasil menjadi group keuangan terbesar yang memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi.

"Perbaikan kinerja Bank Mandiri selaras dengan kondisi perekonomian nasional yang masih bertumbuh. Hal ini juga mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia masih relatif stabil meski diterpa oleh ketidakpastian global," ujar Darmawan dalam Konferesi Pers Paparan Kinerja Bank Mandiri Kuartal II/2022, Kamis (28/7/2022).

 

Selain itu, emiten bersandi saham BMRI itu juga mencatatkan pertumbuhan pertumbuhan kredit di atas pertumbuhan industri yang sebesar 10,7 persen yoy per Juni 2022.

Realisasi pertumbuhan kredit Bank Mandiri secara konsolidasi per kuartal II/2022 mencapai Rp1.138,31 triliun atau tumbuh 12,22 persen.

Darmawan mengungkapkan dengan pencapaian tersebut, Bank Mandiri juga menjadi bank dengan penyaluran kredit terbesar di Indonesia.

"Perbaikan kinerja Bank Mandiri selaras dengan kondisi perekonomian nasional yang masih bertumbuh. Hal ini juga mengindikasikan bahwa perekonomian Indonesia masih relatif stabil meski diterpa oleh ketidakpastian global," tuturnya.

Darmawan menyampaikan fungsi intermediasi tersebut disokong oleh seluruh segmen kredit yang membaik.

Salah satunya kredit korporasi yang menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan sebesar 10,6 persen yoy, yakni dari Rp369 triliun menjadi Rp409 triliun pada akhir Juni 2022.

Pertumbuhan kredit ini juga turut mendorong pertumbuhan total aset Bank Mandiri secara konsolidasi yang mencapai Rp1.786 triliun atau tumbuh 13 persen yoy sampai dengan akhir Juni 2022.

"Dalam menjaga kualitas aset, Bank Mandiri telah menjalankan proses mitigasi dengan menerapkan prinsip kehati-hatian termasuk menjaga rasio pencadangan dalam posisi yang mencukupi," paparnya.

Selain itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri tercatat mencapai Rp1.318,42 triliun per kuartal II/2022 tumbuh 12,76 persen yoy. Pencapaian tersebut juga menjadikan Bank Mandiri dengan total DPK terbesar di industri perbankan Indonesia.

"Melihat kinerja yang membaik, kami optimis pertumbuhan kredit Bank Mandiri mampu tumbuh di atas 11 persen sampai dengan akhir tahun dengan kualitas aset yang terjaga optimal," imbuhnya.

Adapun dari sisi rasio keuangan, net interest margin (NIM) secara konsolidasi mencapai 5,37 persen di kuartal II/2022, tumbuh 32 basis poin (bps) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, return on equity (ROE) Bank Mandiri secara konsolidasi tercatat sebesar 23,03 persen pada periode yang sama, meningkat 791 bps secara tahunan. 

Kemudian, rasio non performing loan (NPL) Bank Mandiri (bank only) turun menjadi 2,47 persen dan biaya kredit atau cost of credit (CoC) menjadi 1,27 persen pada semester I/2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank mandiri laba bersih kinerja bank bank mandiri laba bersih
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top