Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Wacana BNI (BBNI) Akuisisi BTN (BBTN), Bagaimana Prospeknya?

Gabungan BNI (BBNI) dan BTN (BBTN) akan menggeser posisi BCA (BBCA) sebagai bank terbesar ketiga di Indonesia dari sisi aset.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 26 Agustus 2022  |  18:52 WIB
Wacana BNI (BBNI) Akuisisi BTN (BBTN), Bagaimana Prospeknya?
Ilustrasi.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Memasuki semester II/2022, isu konsolidasi bank BUMN terus bergulir. Teranyar, Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menyatakan pemerintah akan merampingkan jumlah bank pelat merah atau himpunan bank milik negara (Himbara).

Belum rampung rencana akuisisi yang dilakukan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dengan mengambilalih unit usaha syariah (UUS) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN). Kali ini, Wapres secara gamblang menyatakan pemerintah memiliki wacana PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) untuk mengakuisisi BTN konvesional.

"Memang ada rencana tadinya itu kan untuk mempersedikit jumlah bank Himbara, sehingga bank BTN itu syariahnya nanti diambil BSI, konvensionalnya diambil BNI, tetapi sekarang itu masih dalam tahap wacana itu," ungkap Ma'ruf di sela kunjungan kerja ke Pondok Pesantren Teknologi Riau, Kamis (25/8/2022).

Pengamat pasar modal Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Budi Frensidy menyetujui jika jumlah Himbara dirampingkan.

Sementara itu, Direktur Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma menilai wacana BNI mengakuisisi BTN masih terjauh jauh dan tidak ada kepentingan yang medesak. Selain itu, emiten bersandi saham BBTN juga merupakan salah satu bank dengan aset terbesar kelima di Indonesia.

“Menurut saya, masih terlalu jauh dan enggak ada urgensinya kalau BNI mengambil BTN,” kata Suria saat dihubungi Bisnis, Jumat (26/8/2022).

Jika merujuk pada laporan keuangan kuartal I/2022, BBTN merupakan salah satu bank dari sisi aset terbesar di Indonesia yang berada di urutan kelima. BBTN memiliki aset mencapai Rp367,51 triliun. Sementara itu, BBNI tercatat memiliki aset Rp931,98 triliun atau berada di posisi keempat bank dengan aset terbesar di Tanah Air.

Apabila kedua aset ini bersatu, maka skenario total aset yang dimiliki BBNI akan mencapai Rp1.299,4 triliun. Kenaikan aset itu akan menggeser PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang bertengger di posisi ketiga dengan aset per Maret 2022 mencapai Rp1.259,4 triliun.

Menurut Suria, apabila pemerintah melakukan wacana tersebut, maka jalan yang ditempuh adalah dengan rights issue. Dengan demikian, perseroan harus meminta lampu hijau dari DPR guna menyetujui penyertaan modal negara (PMN) dengan jumlah yang besar.

Skema selanjutnya adalah menentukan harga pengambilalihan BTN. Semakin tinggi, kata Suria, maka porsi rights issue masyarakat juga akan semakin besar. Namun, sambungnya, dia mempertanyakan kesiapan masyarakat dalam menyerap rights tersebut.

Berkaca dari aksi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang mengambilalih PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, Suria mengatakan aksi tersebut dapat dibilang sukses mengingat induknya adalah BBRI.

“Kalau kasusnya BNI mengambil BTN apakah bisa sesukses itu [BRI] masih tanda tanya, belum tentu,” lanjutnya.

Di samping itu, Suria juga menilai bahwa segmen bisnis yang digarap kedua bank pelat merah ini juga berbeda. Untuk BBTN sendiri merupakan bank yang fokus pada segmen perumahan, terutama properti atau KPR. Sedangkan BBNI berfokus pada korporasi dan bisnis internasional.

“Tujuannya kenapa, kalau misalnya mengambil alih, berarti BTN bukan jadi BUMN lagi, jadi anak perusahaan BNI. Tapi secara aset, BNI jadi besar karena ada penambahan aset dari BTN yang tadinya sekarang nomor 4 bisa menjadi nomor 3 menyusul BCA secara aset. Kalau benar skenarionya seperti itu,” tuturnya.

Selain itu, dia juga menyoroti rasio keuangan baik BBNI maupun BBTN. Masih merujuk pada laporan publikasi kuartal I/2022, rasio keuanban berupa margin bersih atau net interest margin (NIM) yang dimiliki BBNI dan BBTN masing-masing di level 4,51 persen dan 4,29 persen. Sementara itu, loan to deposit ratio (LDR) baik dari BBNI maupun BBTN adalah 85,24 persen dan 95,39 persen.

“Kalau misalkan jadi [BNI mengakusisi BTN] harus dihitung-hitung dulu, enggak bisa bilang bagus dan harganya berapa. Kalau harga mahal yang diuntungkan BTN, kalau harga murah yang diuntungkan BNI. Jadi itu bisa banyak skenario,” jelasnya.

Saham BBNI dan BBTN

Secara fundamental, Budi memandang harga saham BBTN akan naik dan konvergen ke PBV BBNI. Sementara itu, Suria mengatakan bahwa valuasi saham BBTN terbilang masih murah. Hal ini mengingat wacana akuisisi UUS BTN oleh BRIS tak kunjung rampung.

Selain itu, sambung Suria, BBTN juga akan menggelar rights issue. Akan tetapi, Suria memandang rights issue tersebut masih belum jelas akan berada di harga berapa.

Adapun dari sisi BBNI, Suria menyampaikan secara year-to-date, saham BBNI mengalami kenaikan yang paling tinggi di antara ke-4 bank BUMN, yakni 23 persen lebih tinggi dari BMRI maupun BBRI. Sedangkan BBTN secara ytd mengalami penurunan 12 persen.

“Jadi sebenarnya BTN ini under value menurut saya, yang lain pada naik [saham BBNI, BMRI, dan BBRI] dia [BBTN] turun,” ucap Suria.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bni Ma'ruf Amin bank bumn himbara perbankan btn Bank Syariah Indonesia
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top