Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BI Kerek Suku Bunga Acuan, Bank Ina (BINA) dan Bank BJB (BJBR) Jaga Porsi Dana Murah

Kenaikan suku bunga acuan memicu perbankan akan menjaga porsi dana murah atau current account saving account (CASA) berupa tabungan dan giro.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 14 September 2022  |  19:35 WIB
BI Kerek Suku Bunga Acuan, Bank Ina (BINA) dan Bank BJB (BJBR) Jaga Porsi Dana Murah
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2 - 2020).
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Ina Perdana Tbk. (BINA) dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) atau Bank BJB menyatakan akan menjaga porsi dana murah atau current account saving account (CASA) berupa tabungan dan giro, seiring Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan.

Direktur Utama Bank Ina Daniel Budirahayu mengatakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 3,75 persen berpengaruh terhadap kenaikan suku bunga deposito perusahaan, meski secara blended cost masih belum besar pengaruhnya.

“Untuk meningkatkan rasio dana murah, kami giat menaikkan porsi tabungan dan giro, sehingga dampak dari kenaikan bunga deposito tidak banyak mempengaruhi cost of fund kami,” ujar Daniel kepada Bisnis, Rabu (14/9/2022).

Senada, Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi menyampaikan bahwa nasabah yang cenderung sensitif terhadap suku bunga merespons perubahan suku bunga acuan dengan meminta bunga simpanan yang lebih tinggi. Akan tetapi, dia mengatakan dampak tersebut terhadap biaya dana masih dapat terkelola, sebab likuiditas yang dimiliki BJBR masih sangat cukup.

“Untuk menjaga dampak dari kenaikan suku bunga acuan ini, kami terus berupaya menjaga rasio CASA sehingga secara mixed cost of fund terkendali, di mana saat ini cost of fund Bank BJB berada pada level 3 persen,” ujar Yuddy.

Selain itu, Yuddy mengungkapkan Bank BJB juga akan terus menggenjot pendapatan fee-based income, khususnya dari transaksi digital. Dengan demikian, BJBR optimis target masih dapat tercapai sesuai rencana bisnis. 

Merujuk laporan keuangan, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun Bank BJB tumbuh 14,7 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari sebelumnya bernilai Rp116,14 triliun pada kuartal II/2021. Apabila dirinci, raihan DPK tersebut ditopang oleh dana murah yang tumbuh 24,7 persen yoy, dari Rp49,35 triliun menjadi Rp61,55 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank ina bank bjb dana murah perbankan suku bunga acuan Bank Indonesia
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top