Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menanti Upaya Bank Putus Laju Kontraksi Kredit UMKM Segmen Menengah

Kredit UMKM skala menengah tercatat sebesar Rp327,5 triliun pada Agustus 2022, turun 27,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 30 September 2022  |  09:47 WIB
Menanti Upaya Bank Putus Laju Kontraksi Kredit UMKM Segmen Menengah
Ilustrasi kinerja bank - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Laju kontraksi kredit yang melanda UMKM segmen menengah perlu diakhiri perbankan melalui penyaluran skema pembiayaan secara menarik. Dengan demikian, hal ini diharapkan mampu mengungkit segmen tersebut untuk kembali ke zona ekspansif.

Berdasarkan laporan Analisis Perkembangan Uang Beredar Agustus 2022, kredit UMKM skala menengah tercatat sebesar Rp327,5 triliun. Jumlah tersebut mengalami kontraksi sebesar 27,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).

Sebelumnya, pada Juli 2022, kinerja kredit ke UMKM skala menengah juga mengalami kontraksi sebesar 26,7 persen secara tahunan dengan nilai sebesar Rp334,7 triliun. Sepanjang tahun 2022, penyaluran kredit di segmen ini rata-rata terkontraksi hingga double digit.

Meski demikian, penyaluran kredit kepada UMKM pada Agustus 2022 masih bertumbuh sebesar 16,8 persen secara tahunan. Perinciannya, kredit kepada UMKM skala mikro melesat 111,8 persen yoy, diikuti dengan pertumbuhan kredit usaha kecil sebesar 20,1 persen secara tahunan.

Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menuturkan bahwa secara umum kredit untuk UMKM segmen menengah cukup bagus. Namun, kemungkinan penyalurannya belum merata sehingga belum bertumbuh sesuai harapan.

Untuk mengakhiri malaise kinerja kredit di sektor tersebut, Amin mengatakan bahwa bank bisa mencari strategi yang lebih efektif selain memaksimalkan sumber daya yang ada.

“Misalnya dengan melakukan inovasi produk sehingga memberikan skema pembiayaan yang menarik untuk segmen perdagangan dan industri pengolahan skala kecil menengah,” ujarnya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (28/9/2022).

Selain itu, bank juga bisa bekerja sama dengan ekosistem perusahaan finansial teknologi atau fintek serta lokapasar untuk mendorong pertumbuhan bersama dengan berbagai pola. Bisa juga dengan memberikan special rate untuk beberapa nasabah yang tersegmentasi.

Dari sisi perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mengakui bahwa selaras dengan kondisi industri, penyaluran kredit perseroan kepada UMKM segmen menengah juga mengalami kontraksi.

Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto menyatakan bahwa perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mendorong pertumbuhan UMKM segmen menengah.

“Khusus segmen menengah, BRI akan fokus untuk menjaga kualitas kredit yang disalurkan serta memperkuat manajemen risiko untuk segmen tersebut. Ke depan, untuk pertumbuhan segmen menengah akan difokuskan pada transaction based loan,” pungkasnya.

Aestika menambahkan meski segmen UMKM menengah terkontraksi, secara umum, kredit UMKM dari emiten bersandi BBRI ini masih bertumbuh. Secara keseluruhan, penyaluran kredit BBRI secara bank only meningkat 9,08 persen year-on-year (yoy).

“Adapun segmen yang mendorong pertumbuhan kredit BRI yakni segmen mikro yang tercatat tumbuh 15,31 persen secara tahunan,” kata Aestika.

Dorong Ekspansi

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) berkomitmen mendorong ekspansi kinerja pelaku usaha UMKM secara keseluruhan untuk menjawab potensi pertumbuhan pada semester kedua tahun ini.

Direktur Enterprise & Commercial Banking BNI Muhammad Iqbal mengatakan bahwa perseroan akan memperkuat pembinaan serta mencari berbagai potensi kerja sama untuk mengakselerasi, sekaligus mendorong pelaku UMKM dapat menembus pasar global.

Menurutnya, ketangguhan UMKM Indonesia telah teruji selama masa kritis pandemi Covid-19. Oleh sebab itu, paruh kedua tahun ini diperkirakan menjadi periode ekspansi bagi para pelaku UMKM untuk merealisasikan berbagai rencana yang sempat tertunda.

“Kami terus memperkuat pembinaan serta menciptakan banyak kolaborasi membantu pemulihan, akselerasi, dan bahkan ekspansi kinerja UMKM hingga Go Global. BNI tentunya masih optimis segmen UMKM dapat bertahan di tengah kenaikan inflasi,” tuturnya Selasa (27/9/2022).

Iqbal melanjutkan bahwa emiten berkode saham BBNI ini melihat potensi pertumbuhan kredit masih cukup baik meskipun fluktuasi ekonomi masih tidak dapat diprediksi. Terutama pada sektor-sektor yang menopang hajat hidup orang banyak, seperti perdagangan bahan pokok. 

Di sisi lain, lanjutnya, kinerja penyaluran kredit UMKM BBNI dinilai masih tumbuh positif. Dia pun memperkirakan hal tersebut akan bertahan dan terus menguat seiring dengan kinerja ekonomi yang sejauh ini masih berada di jalur ekspansif.

Hingga Agustus 2022, kredit UMKM dari perseroan telah mencapai Rp100,2 triliun atau naik 9,51 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu ditopang oleh kredit di sektor perdagangan dan pertanian yang menyumbang lebih dari 50 persen komposisi kredit UMKM.

Di sisi lain, bank sentral mencatat penyaluran kredit perbankan secara industri pada Agustus 2022 mencapai Rp6.155,9 triliun atau bertumbuh 10,3 persen yoy. Realisasi ini turun dibandingkan Juli 2022 yang membukukan pertumbuhan kredit 10,4 persen secara tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan bank umkm kredit
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top