Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

LPS dan OJK Sebut Tantangan Global Bayangi Industri Perbankan

Tantangan industri perbankan saat ini datang dari tataran global, mulai dari kenaikan inflasi hingga meningkatnya suku bunga di sejumlah negara.
Karyawati beraktivitas di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, Senin (9/5/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di Jakarta, Senin (9/5/2022). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaparkan sejumlah rintangan yang bakal dihadapi industri perbankan ke depan, salah satunya terkait dengan tantangan secara global.

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan tantangan industri perbankan saat ini datang dari tataran global, mulai dari kenaikan inflasi hingga meningkatnya suku bunga di sejumlah negara menjadi penyebab terjadinya ketidakpastian ekonomi secara global.

“Lembaga internasional memperkirakan perekonomian global tumbuh dalam kisaran 2,9 – 3,2 persen pada 2022. Sementara perekonomian global pada 2023 diperkirakan tumbuh tidak jauh berbeda yakni di kisaran 2,8 – 3 persen,” ujarnya dalam satu webinar, Kamis (6/10/2022).

Selain itu, Purbaya juga menambahkan bahwa perlambatan ekonomi yang sejalan dengan kenaikan harga dapat memicu risiko terjadinya stagflasi di beberapa negara.

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan bahwa saat ini pihaknya mulai mewanti-wanti ancaman resesi ekonomi global yang kemungkinan terjadi lebih cepat dari perkiraan.

“Saya rasa memang kita paham bahwa resesi global hampir pasti akan terjadi, setidaknya pada 2023. Kalau tidak lebih cepat dari itu,” pungkasnya.

Ancaman resesi global meningkat seiring dengan kenaikan suku bunga kebijakan (policy rate) dari bank sentral utama di dunia, sebagai respons mengatasi tekanan inflasi. Kebijakan moneter ini dilakukan oleh mayoritas bank sentral global, tak terkecuali Bank Indonesia.

Mahendra mengatakan hal ini kemudian mendorong kekhawatiran resesi global meningkat, sehingga lembaga internasional seperti Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), dan OECD menurunkan outlook pertumbuhan ekonomi global.

Meski resesi dipastikan terjadi, Mahendra mengatakan bahwa ada beberapa hal yang belum dapat diperkirakan, yakni seberapa berat kondisi resesi dan berapa lama resesi akan terjadi. Namun, ekonomi Indonesia pada 2022 dan 2023 diperkirakan tetap tumbuh di atas 5 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper