Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bank Indonesia Alokasikan 5 Persen Caden untuk Obligasi Berkelanjutan

BI juga menjanjikan komitmen hijau dengan mengalokasikan sekitar 5 persen dari cadangan devisa (cadev) untuk obligasi berkelanjutan.
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 02 November 2022  |  17:50 WIB
Bank Indonesia Alokasikan 5 Persen Caden untuk Obligasi Berkelanjutan
Ilustrasi cadangan devisa Indonesia dalam mata uang dolar AS - Dok. Bank Indonesia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mengalokasikan sekitar US$6 miliar dalam bentuk obligasi berkelanjutan atau sekitar 5 persen dari total cadangan devisa untuk mendukung pembiayaan hijau.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan BI selangkah lebih maju dibandingkan bank sentral lainnya, yakni tidak hanya menyelaraskan portofolio. Namun, BI juga menjanjikan komitmen hijau dengan mengalokasikan sekitar US$6 miliar dalam bentuk obligasi berkelanjutan.

“Inilah yang kami lakukan sekarang. Sekitar 5 persen dari portofolio dalam cadangan kami dialokasikan untuk obligasi berkelanjutan,” kata Destry dalam acara Mandiri Sustainability Forum 2022, Rabu (2/11/2022).

Sebagai informasi, BI sendiri sudah memulai inisiatif hijau sejak 2010 lalu. Selama satu dekade terakhir, BI sudah melakukan serangkaian workshop hijau termasuk menjadi salah satu pendiri jaringan perbankan berkelanjutan, salah satu forum internasional pertama di bidang keuangan berkelanjutan di dunia. 

Kebijakan moneter dan makroprudensial BI, lanjutnya, juga terus diarahkan pada pembiayaan hijau atau pembiayaan berkelanjutan.

Pada 2020 lalu misalnya, BI menerbitkan pengaturan rasio LTV/FTV (Loan to Value/Financing to Value) untuk kredit properti (KP) atau pembiayaan properti (PP) untuk properti berwawasan lingkungan dan pengaturan Uang Muka untuk kredit kendaraan bermotor (KKB) atau pembiayaan kendaraan bermotor (PKB) untuk kendaraan bermotor berwawasan lingkungan.

Kemudian di 2022, BI memperkenalkan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) Hijau untuk meningkatkan penerbitan obligasi hijau dengan memungkinkan bank untuk memenuhi persyaratan rasio pembiayaan inklusif dengan membeli obligasi hijau.

Destry menuturkan, RPIM yang baru diperkenalkan tersebut telah menciptakan permintaan yang signifikan untuk obligasi hijau dalam negeri. Ini kemudian mendorong pemerintah Indonesia untuk menerbitkan sukuk hijau d dan obligasi SDG dalam negeri.

“Ini menunjukkan bahwa kebijakan kehati-hatian makro kami memang berdampak pada pembiayaan hijau,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia cadangan devisa ekonomi hijau
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top