Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Suku Bunga Acuan Tinggi, BBCA dan BMRI Genjot Pendapatan Nonbunga

Pendapatan nonbunga BCA (BBCA) dan Bank Mandiri (BMRI) ditopang oleh fee based income.
Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan - Bisnis.com 09 Desember 2022  |  14:01 WIB
Suku Bunga Acuan Tinggi, BBCA dan BMRI Genjot Pendapatan Nonbunga
Ilustrasasi transaksi bank. - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) melaporkan pertumbuhan pendapatan nonbunga di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan dalam sembilan bulan pertama 2022, BCA membukukan pendapatan nonbunga sebesar Rp16,7 triliun, tumbuh 7,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan pendapatan nonbunga ditopang kenaikan pendapatan berbasis komisi atau fee based income sebesar 15,2 persen yoy menjadi Rp12,3 triliun.

"Kenaikan pendapatan non bunga ini turut berkontribusi bagi pertumbuhan total pendapatan operasional sebesar 8,9 persen yoy menjadi Rp62,8 triliun," katanya kepada Bisnis pada Jumat (9/12/2022). Dengan begitu, laba bersih BCA per kuartal III/2022 pun naik 24,8 persen yoy menjadi Rp29,0 triliun.

Sementara itu, solidnya pertumbuhan fee based income BCA sejalan dengan melesatnya jumlah transaksi, termasuk yang melalui perbankan digital.

Dalam sembilan bulan pertama 2022, frekuensi transaksi QRIS misalnya mencapai 126,5 juta transaksi, atau meningkat 436 persen yoy. Kemudian, frekuensi transaksi virtual account juga naik 52 persen yoy.

Selain itu, jumlah transaksi BI Fast yang telah diproses oleh BCA per Oktober 2022 tercatat sebesar 238,1 juta dengan nilai transaksi mencapai Rp833,1 triliun.

"Ke depannya, BCA akan terus memperkuat ekosistem finansial, penyempurnaan dan modernisasi dari infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki, sehingga diharapkan dapat meningkatkan volume transaksi digital perbankan dan mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan," ungkap Hera.

Begitu juga dengan Bank Mandiri. Corporate Secretary Bank Mandiri, Rudi As Aturridha mengatakan bahwa pendapatan nonbunga Bank Mandiri per Oktober 2022 telah mencapai Rp22,0 triliun. Sementara, fee based income yang dihasilkan oleh platform digital Livin' by Mandiri dan Kopra by Mandiri masing-masing menyumbang pertumbuhan sebesar 20,70 persen yoy dan 12,17 persen yoy.

"Pencapaian tersebut sejalan dengan penerapan strategi Bank Mandiri untuk terus mendorong pertumbuhan fee based income khususnya yang bersifat recurring dari transaksi digital," ungkap Rudi.

Perseoran optimis pendapatan nonbunga tetap tumbuh. "Hal ini juga sejalan dengan tren digitalisasi di masyarakat yang terus meluas," ungkap Rudi.

Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan bahwa pendapatan non bunga merupakan pendapatan alternatif yang bisa dimanfaatkan oleh bank di tengah tren kenaikan suku bunga acuan.

BI sendiri telah menaikan suku bunga acuannya secara berturut-turut sejak Agustus 2022 hingga November 2022. Berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16–17 November 2022, suku bunga acuan BI menjadi 5,25 persen.

"Saya melihat ada alternatif lain pendapatan bank yang tidak hanya memanfaatkan kualitas aset produktifnya dari pinjaman. Bank-bank terutama yang besar bergeser mencari pendapatan dari transactional banking," ujarnya.

Menurutnya, pendapatan bank dari bisnis non bunga akan lebih menarik ke depan sebagai alternatif karena biayanya bisa lebih bisa terkontrol.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca bank mandiri suku bunga acuan perbankan
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top