Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Bank Mandiri (BMRI) Ramal Neraca Transaksi Berjalan 2023 Bakal Defisit

Setelah mencatatkan hasil surplus pada 2022, Bank Mandiri (BMRI) memprediksi neraca transaksi berjalan pada 2023 bakal defisit.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 20 Januari 2023  |  19:20 WIB
Bank Mandiri (BMRI) Ramal Neraca Transaksi Berjalan 2023 Bakal Defisit
Ilustrasi cadangan devisa Indonesia - Bisnis - Himawan L Nugraha.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menilai bahwa neraca transaksi berjalan pada 2023 akan berubah menjadi defisit karena pemulihan ekonomi memicu impor yang tinggi.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro, usai Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin. Suku bunga kini berada di 5,75 persen atau yang tertinggi sejak Juli 2019.

Asmo menilai bahwa kinerja ekspor relatif akan menurun pada 2023 karena harga komoditas yang mulai loyo. Penyebabnya, tekanan ekonomi dan pengetatan moneter untuk melawan inflasi membuat permintaan global melambat tahun ini.

Di sisi lain, BMRI meyakini bahwa pertumbuhan impor akan lebih tinggi daripada ekspor seiring pemulihan ekonomi. Permintaan domestik yang meningkat membuat kebutuhan impor naik, baik bahan baku maupun barang jadi.

"Kami memperkirakan neraca transaksi berjalan pada 2023 akan berubah menjadi defisit, yang dapat dikelola sekitar 1,10 persen dari produk domestik bruto [PDB]," ujar Asmo pada Kamis (20/1/2023).

Menurutnya, pencabutan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turut berpengaruh terhadap kenaikan konsumsi domestik, sehingga memicu pemulihan ekonomi. Selain itu, upaya mendorong hilirisasi industri dan melanjutkan Proyek Strategi Nasional (PSN) juga turut mendorong perekonomian.

Meskipun begitu, Asmo menilai bahwa inflasi masih akan bergerak di atas 4 persen pada semester I/2023 ketika pemulihan ekonomi terjadi. Alasannya, inflasi tidak akan turun cepat dari posisi akhir 2022 di 5,51 persen.

"Kami masih memperkirakan inflasi domestik akan tetap berada di atas batas atas kisaran target 2 persen—4 persen, setidaknya hingga semester pertama tahun 2023," ujar Asmo pada Kamis (19/1/2023).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank mandiri neraca transaksi berjalan suku bunga acuan
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top