Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BRI (BBRI) Turunkan Portofolio Surat Berharga

BRI (BBRI) sengaja menurunkan portofolio surat berharga untuk memenuhi kebutuhan likuiditas agar dapat menjaga pertumbuhan kredit.
Investor menunjukan aplikasi reksadana yang menjual Surat Berharga Negara di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Abdurachman
Investor menunjukan aplikasi reksadana yang menjual Surat Berharga Negara di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melakukan sejumlah strategi mengelola portofolio surat berharga di tengah keuruntuhan Silicon Valley Bank dan dampak yang mengikutinya. 

Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan bahwa perusahaan akan tetap melakukan pengelolaan aset investasi berupa SBN secara aktif berbasis manajemen risiko. Hal tersebut dimaksudkan sebagai satu alternatif optimalisasi likuiditas dan kondisi pasar.

Sejumlah strategi yang akan dijalankan yakni, pertama menjaga durasi dan maturity profile portofolio sesuai dengan risk appetite bank. Kedua, Aestika melanjutkan, akan menjaga komposisi seri surat berharga yang likuid, serta melalukan pencocokan aset dan liabilitas.

Sementara itu, BRI tercatat menuruntkan portofolio surat berharga yang dimiliki sebesar -3,91 persen (year-on-year/yoy) menjadi Rp337,82 triliun per Desember 2022. Lebih rinci, porsi Surat Berharga Negara (SBN) di BRI turun 12,18 persen yoy. 

"Investasi BRI pada SBN dilakukan sebagai yield enhancement excess likuiditas. Di sepanjang tahun 2022, porsi SBN di BRI turun 12,18 persen untuk mendukung pemenuhan kebutuhan likuiditas khususnya atas pertumbuhan pinjaman," jelas Aestika kepada Bisnis, Rabu (15/3/2023).

Sebagaimana diketahui, dana bank pada SBN masih mendominasi. Mengutip data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga Jumat (10/3/2023) tercatat penempatan dana bank pada SBN sebesar Rp1.700 triliun.

Sementara itu, investment specialist Sucor Asset Management Toufan Yamin mengatakan investor cenderung lari ke surat utang jangka pendek setelah Silicon Valley Bank bankrut. Hal ini kata dia tercermin dari reli harga surat utang bertenor pendek. Apalagi, kata dia, ada sentimen pelonggaran kebijakan moneter.

Diketahui, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR) per 13 Maret 2023, terdapat net buy SBN sebesar Rp650 miliar oleh asing sejak kolapsnya SVB.

Tercatat juga dari data lelang surat utang negara (SUN) pada 14 Maret 2023 lalu, Incoming bids investor asing meningkat hampir 2 kali lipat menjadi Rp13,03 triliun dari Rp6,79 triliun pada lelang sebelumnya. Jumlah incoming bids dari investor asing tersebut mayoritas pada seri SUN tenor 5 dan 10 tahun yaitu Rp10,3 triliun atau 79,0 persen dari total incoming bids investor asing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Alifian Asmaaysi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper