Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Punya Banyak Mitra Startup, Bank Jago (ARTO) Pede Tak Terdampak SVB

Bank Jago (ARTO) mengklaim memiliki diversifikasi penyaluran kredit, sehingga mitigasi risiko terdistribusi dengan baik.
Nasabah berada di kantor cabang Bank Jago, Jakarta, Rabu (22/12/2021). Bisnis/Abdurachman
Nasabah berada di kantor cabang Bank Jago, Jakarta, Rabu (22/12/2021). Bisnis/Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Jago Tbk. (ARTO) mengungkapkan bahwa runtuhnya sejumlah bank di Amerika Serikat (AS), Silicon Valley Bank hingga Signature Bank, tidak berdampak besar pada kinerja industri perbankan nasional, khususnya kinerja bank besutan Jerry Ng ini. 

Direktur Utama ARTO, Kharim Siregar menjelaskan secara garis besar runtuhnya SVB disebabkan oleh besarnya penempatan dana pada pasar surat utang. Hal ini tidak ditemui pada portofolio perseroannya. 

"Semua funds [simpanan] nasabah kita disalurkan menjadi pinjaman ke 38 mitra sehingga risikonya lebih terdistribusi dengan baik. Intinya jangan put all in one basket, akhirnya pecah, harus diversify. Kalau saya lihat diversifikasi Bank Jago cukup baik dan tidak berdampak," jelasnya saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/3/2023).

Secara lebih rinci, Wakil Direktur Utama Bank Jago Arief Harris menjelaskan bahwa bangkrutnya sejumlah bank di AS dipantik oleh hilangnya kepercayaan nasabah atas kemampuan bank menjaga likuiditasnya. 

Menghindari hal tersebut, Bank Jago berkomitmen untuk menjaga risk management, manajemen balance sheet, hingga menjaga ketat manajemen pengaturan. 

Arief menjelaskan, sedari awal pihaknya telah menanamkan kepercayaan bahwa untuk menjaga peforma, bank tidak boleh mencatatkan rugi secara berkelanjutan. Oleh karena itu, ARTO secara serius menjaga portofolionya untuk menjaga stabilitas kinerja harga saham dan dampaknya kepada investor.

"Tapi at the same time jangan burning money, karena the more losing money investor makin suka, tapi itu dulu dan sekarang situasinya berubah, yang diminta investor kapan profit" jelasnya.

Di samping itu, Bank Jago juga akan menjaga kualitas pertumbuhan, salah satunya dengan memupuk rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) hingga menjaga stabilitas rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL)

"Walaupun kita masih baru, target kita dari awal harus profitable, kecil juga tidak apa-apa kita jaga capital, modal jangan berkurang, itu yang kami jaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profit," ujarnya.

Adapun aset Bank Jago mencapai Rp16,97 triliun atau tumbuh 38 persen per 31 Desember 2022. Pada periode yang sama, CAR  perusahaan sebesar 83 persen yang menunjukkan permodalan yang kuat untuk ekspansi bisnis ke depan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Alifian Asmaaysi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper