Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Jeblok di Tengah Dugaan Kebocoran Data, Intip Prospek Saham BSI (BRIS)

Harga saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) jeblok pada perdagangan pekan ini di tengah dugaan kebocoran data dan ancaman serangan siber ransomware.
Logo PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) di kantor pusat yang berada di Jakarta. /Bloomberg-Dimas Ardian
Logo PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) di kantor pusat yang berada di Jakarta. /Bloomberg-Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA - Harga saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) jeblok pada perdagangan pekan ini di tengah dugaan kebocoran data nasabah dan ancaman serangan siber ransomware.

Berdasarkan data RTI Business, harga saham BRIS turun 10,86 persen dalam sepekan terakhir dan terparkir di level Rp1.600 pada penutupan perdagangan kemarin (17/5/2023). Saham BRIS pun sempat mengalami auto rejection bawah (ARB), anjlok 6,98 persen pada perdagangan Selasa (16/5/2023).

Dalam sebulan, harga saham BRIS anjlok 10,11 persen. Sementara, sejak awal tahun atau secara year to date (ytd), harga saham BRIS masih tercatat naik 24,03 persen.

Tekanan harga saham BRIS ini terjadi di tengah kabar dugaan kebocoran data nasabah yang dilakukan kelompok ransomware LockBit pada Selasa (16/5/2023) di situs dark web. Total data yang dibocorkan mencapai 1,5 TB mencakup data nasabah dan karyawan BSI. 

Data yang disebar hanya sebagian kecil, sementara data-data penting lainnya akan digunakan dalam eksploitasi selanjutnya. 

Dalam tangkapan layar yang dibagikan di akun Twitter @darktracer_int, terdapat sejumlah data manajemen perseroan mulai dari regional chief executive officer (RCEO) hingga sekretaris perseroan. Ada juga sejumlah dokumen internal mulai dari retail banking data backup hingga database dokumen syarat akad tertanggal 19 April 2022. 

Head of Equity Ekuator Swarna Sekuritas David Setyanto mengatakan sentimen serangan siber seperti yang terjadi pada BRIS memang dapat berdampak signifikan apabila tidak ditangani dengan baik. "Untuk itu, BRIS harus dapat mengembalikan kepercayaan nasabah dan investor. Penanganan yang tidak tepat akan berdampak negatif terhadap kinerja BRIS kedepannya, karena dasar dari perbankan adalah kepercayaan," ujarnya kepada Bisnis pada Kamis (18/5/2023).

Ia mengatakan penanganan atas kasus kebocoran data oleh emiten bank syariah itu juga akan menentukan prospek sahamnya ke depan, meskipun secara fundamental kinerja BRIS masih meyakinkan.

"Prospek saham untuk jangka pendek dan menengah tergantung dari sejauh mana BRIS dapat mengatasi masalah ini [serangan siber]. Semakin banyak rumor yang beredar maka akan berdampak negatif," ujarnya.

Sementara itu, di keterbukaan informasi, Corporate Secretary BSI Gunawan A. Hartoyo menjelaskan bahwa setelah gangguan layanan sejak 8 Mei 2023, BRIS melakukan penelusuran dan menemukan indikasi adanya serangan siber. "Perseroan melakukan berbagai langkah penanganan sesuai protokol penanganan insiden siber yang berlaku, dilanjutkan dengan upaya pemulihan layanan kepada nasabah," katanya pada Rabu (17/5/2023).

Perseroan sendiri masih melakukan assessment atau audit forensik terhadap insiden serangan itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper