Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ramai-ramai Kualitas Kredit Bank Turun, Suku Bunga jadi Biang Kerok?

Turunnya kualitas kredit ban-bank di Tanah Air disebabkan berbagai faktor, diantaranya adalah faktor kenaikan suku bunga.
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai merapikan uang Rupiah di kantor cabang BNI, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bank dengan layanan digital mencatatkan nilai impairment tinggi pada kuartal III/2023. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas kredit bank-bank tersebut menurun.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan tingginya impairment, akibat menurunnya kualitas kredit yang bisa disebabkan berbagai faktor, diantaranya adalah faktor kenaikan suku bunga.

Lebih lanjut, dia menyebut, secara umum, impairment tinggi kerap terjadi pada bank yang memberikan tingkat bunga dan tingkat risiko yang lebih tinggi, seperti bank digital. Adapun, ini dikarenakan, bunga pinjaman di bank digital cenderung lebih tinggi dibanding bank konvensional.

"Untuk menekan impairment, bank perlu menjaga kualitas kredit dan selektif dalam memberikan pembiayaan serta memperkuat monitoring kredit," ujarnya pada Bisnis, Kamis (23/11/2023).

Hal senada juga disampaikan, Peneliti Lembaga ESED dan Praktisi Perbankan BUMN Chandra Bagus Sulistyo yang mengatakan sebuah aset bisa mengalami penurunan nilai di antaranya karena penurunan nilai pasar aset yang signifikan, perubahan ekonomi seperti tingkat bunga pasar. Selain itu bisa juga karena faktor internal seperti kerusakan aset, kinerja aset yang buruk dan lain sebagainya.

Tingginya nilai impairment pada akhirnya menggerus laba bank. Jika impairment terus meningkat, maka bank digital dapat mengalami kerugian.

“Lonjakan nilai impairment aset kredit yang dinilai mengalami penurunan kualitas, sehingga membutuhkan pencadagangan nilai kerugian,” ungkapnya.

Kondisi ini memang kerap terjadi pada bank berbasis layanan digital, misal PT Bank Seabank Indonesia (SeaBank) yang membukukan kerugian penurunan nilai aset keuangan alias impairment yang membengkak 105% menjadi Rp3,48 triliun pada September 2023, dibanding periode sebelumnya Rp1,7 triliun.

Sementara posisi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan terhadap aset produktif naik menjadi 7,67% dari sebelumnya 6,87%.

Hal serupa juga terjadi pada PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB). Meski pihaknya melakukan limited review per kuartal III/2023. Namun, per Juni 2023, Bank Neo mencatatkan impairment sebesar 291,95%, menjadi Rp1,19 triliun dari yang sebelumnya Rp302,73 miliar per Juni 2022.

Adapun, CKPN yang dibentuk Bank Neo mengalami kenaikan menjadi 2,66% dari yang sebelumnya 2,59%.

Tak hanya itu, Bank Digital BCA alias blu pun mencattakan impairment yang tak kalah besarnya, yakni naik 324,05% dari yang sebelumnya Rp14,69 miliar per kuartal III/2022, menjadi Rp62,29 miliar per kuartal III/2023. Lalu, CKPN pun meningkat dari 0,27% menjadi 0,94%.

Meski tak sebesar bank digital yang lain, akan tetapi PT Bank Jago Tbk. (ARTO) ikut mencatatkan impairment mencapai dobel digit, yakni 31,16% menjadi Rp348,44 miliar pada kuartal III/2023, dari sebelumnya Rp265,66 miliar pada kuartal III/2023. CKPN ARTO pun naik 1,8% dari yang sebelumnya 1,55%.

Head of Consumer Business Bank Jago Trio Lumbantoruan kala dikonfirmasi oleh Bisnis memilih tidak berkomentar lebih lanjut. Meski begitu, dirinya menyebut bahwa Bank Jago (ARTO) berkomitmen untuk tumbuh secara sustain.

"Jadi ya, pertumbuhan yang sehat itu penting. Karena, bisnis berkembang. Tapi, salah satu tolak ukurnya adalah sustainability. Jadi ketika kita mengikuti semua aturan, compliance yang ada, prosedur dan kehati-hatian, di samping bertumbuh, kita harapkan dapat angka dan di satu sisi kita dapat sustain," tuturnya saat ditemui Bisnis usai agenda Bisnis Indonesia Business Challenges 2024, Kamis (23/11/2023).

Sebaliknya, sejumlah bank seperti PT Allobank Indonesia Tbk. (BBHI), PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) hingga PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mencatatkan penurunan.

Di mana, BBHI membukukan impairment yang turun 53,72% menjadi Rp19,19 miliar per September 2023 dari yang sebelumnya Rp41,46 miliar per September 2022. Adapun, posisi CKPN BBHI mengalami kenaikan tipis dari 0,5% menjadi 0,53%Kemudian, AMAR juga mencatatkan penurunan impairment menjadi Rp422,54 miliar, turun 11,69% dari yang sebelumnya Rp478,48 miliar.

CKPN yang dibentuk AMAR juga turun dari yang sebelumnya 4,99% menjadi 4,89%Terakhir, Bank Raya yang mencatatkan penyusutan impairment yang signifikan hingga 96,87% menjadi Rp14,31 miliar dari yang sebelumnya Rp456,91 miliar. Bahkan, posisi CKPN terkoreksi hingga 390 basis poin (Bps) menjadi 7,67% dari yang semula 11,57%.

Menariknya, CKPN AGRO turun 390 basis poin (bps) menjadi 7,67% dari yang sebelumnya berada di level 11,57%.

Corporate Secretary Bank Raya Ajeng Putri Hapsari mengatakan adanya perbaikan dari sisi impairment Bank Raya pada triwulan III/2023 terjadi seiring dengan proses transformasi yang dilakukan Bank Raya."Hal tersebut sejalan dengan strategi Bank Raya untuk fokus pada pengembangan simpanan dan pinjaman digital yang berkualitas," ujarnya pada Bisnis, Jumat (24/11/2023).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper