Memperlebar Akses Dunia Kerja Bagi Kawan Difabel

Kesenjangan akses dunia kerja bagi kalangan difabel masih perlu menjadi tantangan dalam upaya mewujudkan kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih inklusif
Foto: Memperlebar Akses Dunia Kerja Bagi Kawan Difabel
Foto: Memperlebar Akses Dunia Kerja Bagi Kawan Difabel

Bisnis.com, JAKARTA — Kesenjangan akses dunia kerja bagi kalangan difabel masih perlu menjadi tantangan dalam upaya mewujudkan kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih inklusif.

Regulasi yang berkaitan dengan hak-hak disabilitas telah banyak diterbitkan, seperti salah satunya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam undang-undang tersebut, negara berupaya menyejajarkan kesempatan yang bisa didapatkan oleh penyandang disabilitas di mana pun.

Selain itu, rendahnya tingkat literasi keuangan juga menjadi masalah serius yang perlu diatasi. Pasalnya, kurangnya literasi di sektor ini dapat menghambat penyandang disabilitas dalam memahami pentingnya pengelolaan keuangan, mengakses produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan, dan melindungi diri mereka dari risiko keuangan yang tidak terduga.

Beberapa dampak dari literasi keuangan yang rendah secara umum adalah tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik, tidak memiliki tujuan keuangan, penempatan instrumen keuangan yang tidak tepat, dan terjebak oleh praktik investasi bodong.

Padahal, literasi dan inklusi keuangan untuk semua lapisan masyarakat juga penting bagi perekonomian nasional secara garis besar. “Peningkatan akses keuangan masyarakat khususnya bagi difabel dan masyarakat yang berada di daerah terpencil penting untuk terus dilakukan. Seluruh masyarakat berhak untuk mendapat perlakuan dalam mengakses produk dan layanan jasa keuangan,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, baru-baru ini.

Namun, upaya mewujudkan kesempatan yang sejajar itu masih menghadapi tantangan. Menurut data milik Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK), saat ini terdapat 22,97 juta kawan difabel. Namun, hingga 2022 hanya sekitar 7,6 juta saja dari jumlah tersebut yang memiliki pekerjaan, baik di sektor formal maupun non-formal.

Hal ini menunjukkan kawan difabel memiliki kesempatan bekerja lebih kecil dibandingkan masyarakat pada umumnya. Data yang dirilis oleh BPS menunjukkan bahwa pada 2022, jumlah pekerja difabel di Indonesia hanya mencapai 0,53% dari total jumlah penduduk yang bekerja.

Saat ini, jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,97 juta jiwa, atau sekitar 8,5% dari total jumlah penduduk Indonesia, dengan mayoritas dari mereka berada dalam usia lanjut.

Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh penyandang disabilitas adalah perlakuan diskriminatif dalam proses rekrutmen dan penempatan kerja.

Dalam laporan bertajuk Analisis Tematik Kependudukan Indonesia itu, BPS menegaskan bahwa perlakuan tidak adil ini seringkali muncul karena adanya asumsi atau stigma terhadap kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki oleh penyandang disabilitas.

Penyandang disabilitas dalam pasar tenaga kerja sebagian besar mengisi posisi tenaga usaha (25,22%), pekerja pertanian (25,22%), buruh kasar (21,78%), dan pekerja pengolahan (10,55%).

Salah satu sektor yang berpeluang membuka lapangan kerja bagi warga dengan disabilitas adalah industri kreatif, terutama di ranah kuliner. Data dari Barekraf mencatat bahwa industri kreatif mayoritas didominasi oleh bisnis kuliner sebesar 41.4%, dengan kedai kopi termasuk di dalamnya.

Maka dari itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk melalui program CSR Danamon Peduli bekerja sama dengan Sunyi Academy — yayasan yang bergerak di bidang pembinaan ketenagakerjaan industri kuliner untuk kawan difabel — mengembangkan program Berbagi Dalam Sunyi, yang mengajak nasabah Danamon turut serta membangun masa depan yang lebih baik bagi kawan-kawan difabel melalui serangkaian program yang terdiri dari donasi, pelatihan finansial dan keterampilan, serta magang bersertifikat.

Dana yang terkumpul dalam tahap donasi kemudian telah dimanfaatkan untuk memberikan pembekalan keterampilan kepada kawan-kawan difabel di kawasan Jabodetabek agar dapat menjadi mandiri dan membangun masa depan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri. Jumlah transaksi yang terkumpul dari program ini mencapai lebih dari 3.200 dalam waktu dua bulan periode kegiatan donasi promosi Rp 1 dengan QRIS D-Bank PRO.

“Kami juga mengucapkan selamat kepada kawan-kawan difabel yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian program dengan baik. Kami berharap, ilmu yang mereka dapatkan akan berguna bagi mereka sebagai bekal menjadi Barista handal yang cerdas – bukan hanya ahli mengolah kopi, tapi juga cerdas secara finansial – sehingga mereka bisa menyongsong masa depan yang lebih baik dan bisa menjadi mandiri secara finansial. Hal ini sejalan visi Danamon untuk Peduli dan Membantu Jutaan Orang Mencapai Kesejahteraan,” jelas Abdul Hadi, Sustainability Finance Head PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

Dalam rangkaian acara pelatihan dan magang, para peserta telah diajarkan pengetahuan seputar teori kopi dan teknik menjadi barista, serta bagaimana caranya mengelola keuangan usaha yang baik. Selepas pelatihan, para peserta telah mendapatkan sertifikat dan kesempatan untuk magang di Kopi Sunyi selama satu bulan.

Pada akhir program, sebanyak 40 peserta magang menerima sertifikat tanda selesai mengikuti workshop yang dipilih dari 300 pendaftar.

“Misi Sunyi Academy untuk membekali kawan-kawan difabel agar dapat berdiri di atas kaki sendiri dan menjadi sejahtera sangat sejalan dengan visi Danamon untuk Peduli dan Membantu Jutaan Orang Mencapai Kesejahteraan. Oleh karena itu, Danamon melalui D-Bank PRO bersama Danamon Peduli senang sekali dapat bekerja sama dengan Sunyi Academy untuk mengajak nasabah Danamon turut membantu kawan-kawan difabel mendapatkan kesempatan kerja dengan menjadi barista yang kompeten,” ujar Andreas Kurniawan, Chief Digital Officer PT Bank Danamon Indonesia Tbk.

Sebagai informasi, kebanyakan pelanggan Kopi Sunyi adalah kaum Milenial dan Gen Z berusia 20 tahun—30 tahun dan merupakan pribadi yang dinamis dan aktif menggunakan media sosial.

Demografi yang sama ini juga merupakan target pengguna D-Bank PRO yang #SelaluMenggoda, dan menawarkan berbagai godaan kenyamanan, kepraktisan dan beragam transaksi finansial dan non-finansial harian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Media Digital
Editor : Media Digital
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

# Hot Topic

Rekomendasi Kami

Foto

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper