Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Dekati Rp16.000, AMRO Sebut BI Perlu Pertahankan Kebijakan Moneter Ketat

AMRO memperkirakan volatilitas arus modal masih akan berlanjut di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pegawai menyiapkan uang lembaran baru untuk layanan kas keliling Bank Indonesia. ANTARA
Pegawai menyiapkan uang lembaran baru untuk layanan kas keliling Bank Indonesia. ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA – ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) memperkirakan volatilitas arus modal masih akan berlanjut di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di pasar spot, kondisi ini telah menekan nilai tukar rupiah ke level Rp15.898,5 per dolar AS pada Kamis (4/4/2024) pada pukul 12.46 WIB.

Sebagai pembanding, APBN 2024 mematok nilai tukar rupiah Rp15.000 per dolar.

“Seperti negara-negara lain di kawasan, pasar keuangan Indonesia mungkin akan terkena dampak negatif dari kampanye pemilihan presiden AS,” sebut AMRO dalam Laporan Konsultasi Tahunan 2023, dikutip Kamis (4/4/2024).

Menurutnya arah kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat (AS) masih akan berkepanjangan, meski risiko telah menurun dengan berakhirnya kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

AMRO menilai, bauran kebijakan Bank Indonesia saat ini perlu terus dilanjutkan mempertimbangkan ketidakpastian global yang sedang berlangsung. 

Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga dinilai perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat, terutama dengan adanya risiko lonjakan pada harga pangan dan bahan bakar global, serta arus modal keluar yang berlanjut.

“Karena risiko lonjakan harga pangan dan bahan bakar global, serta volatilitas aliran modal di negara-negara berkembang masih terus berlanjut, mempertahankan sikap kebijakan moneter ketat saat ini mungkin diperlukan untuk beberapa waktu ke depan,” sebut AMRO.

Dengan skenario perlambatan ekonomi global secara tajam, para pembuat kebijakan dinilai harus tetap mencermati risiko terkait stabilitas makro-keuangan, sembari bersiap memberikan dukungan untuk menopang pemulihan ekonomi.

Di sisi fiskal, AMRO juga menilai, pemerintah perlu mendorong peningkatan pendapatan negara untuk memenuhi kebutuhan belanja yang lebih tinggi dengan tetap menerapkan disiplin fiskal. 

Terkait pengelolaan utang, upaya untuk memperdalam pasar obligasi pemerintah dan memperluas basis investor juga dinilai sangat penting guna meningkatkan akses pembiayaan dan menurunkan biaya pinjaman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper