Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Simpanan Nasabah Tajir Lesu Jelang Lebaran, OJK Beberkan Penyebabnya

Simak penjelasan OJK terkait penyebab simpanan nasabah tajir justru melesu jelang Lebaran.
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menata uang tunai di Cash Center PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), Jakarta, Kamis (14/3/2024). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat bahwa lesunya Dana Pihak Ketiga (DPK) disebabkan pertumbuhan DPK dengan nominal di atas Rp5 miliar yang juga cenderung melambat jelang Hari Raya IdulFitri atau Lebaran 2024

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut ini menunjukkan adanya preferensi penggunaan dana internal korporasi untuk kebutuhan operasional dan ekspansi perusahaan.

“Selain itu, perlambatan DPK juga disebabkan penggunaan dana atau simpanan untuk konsumsi masyarakat yang kembali meningkat pasca pandemi, serta dampak dari perpindahan dana dari instrumen perbankan (DPK) ke alternatif investasi lainnya,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (5/4/2024)

Adapun, perlambatan DPK yang terjadi khususnya di tahun lalu disebabkan beberapa faktor di antaranya high based effect pertumbuhan DPK pada akhir 2022, utamanya karena terdapat peningkatan dana yang tinggi dari korporasi.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan posisi Februari 2024, DPK tumbuh 5,66% yoy menjadi Rp8.441 triliun dari tahun sebelumnya yang tumbuh 8,18% yoy. 

Pertumbuhan DPK ditopang KBMI 4 yang tumbuh 7,88% yoy,  meskipun melambat dari 9,78% yoy serta KBMI 1 yang tumbuh 4,85% yoy atau naik dari 3,96% yoy pada tahun sebelumnya. 

Berdasarkan jenis DPK, pertumbuhan DPK didorong oleh Deposito yang tumbuh meningkat yaitu 5,35% yoy dari 4,85% yoy pada tahun sebelumnya serta Giro yang tumbuh 7,33% yoy meskipun melambat dari 16,20% yoy. 

Adapun, pertumbuhan deposito yang meningkat sejalan dengan kenaikan suku bunga sedangkan petumbuhan giro yang masih cukup tinggi sejalan dengan pertumbuhan kredit. Pertumbuhan DPK di tahun 2024 diperkirakan meningkat pada kisaran 7-9% meskipun masih di bawah pertumbuhan kredit. 

Namun demikian, OJK menilai kondisi likuiditas bank saat ini masih cukup baik terutama untuk mendukung penyaluran kredit. 

Hal ini dapat ditunjukkan dengan rasio likuiditas seperti LDR yang sebesar 84,05%, yang di bawah 90% serta kecukupan likuiditas untuk mengantisipasi penarikan dana yaitu AL/NCD dan AL/DPK masing-masing 121,98% dan 27,41% atau jauh di atas threshold. 

Likuiditas Masyarakat

Bank Indonesia (BI) mencatat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) berdasarkan golongan nasabah, yakni perorangan mengalami penurunan pada Februari 2024. Lantas, benarkah hal ini terdorong fenomena masyarakat makan tabungan?

Berdasarkan Analisis Perkembangan Uang Beredar Februari 2024 yang dirilis Bank Indonesia, secara total, DPK secara industri sebesar Rp8.193 triliun, tumbuh 5,4% secara tahunan (year-on-year/yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya 5,8% yoy.  

Adapun, DPK perorangan justru mengalami pelemahan, di mana tumbuh 3,2% pada Februari 2024, dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 5,4%. Sementara, DPK korporasi tumbuh 8,6% yoy, naik dibanding Januari 2024 sebesar 6,2%. 

Peneliti INDEF Abra Talattov menyebut penurunan DPK perseroangan ini sudah terjadi sejak 2023 lalu. Menurutnya, lemahnya DPK lantaran disebabkan keringnya likuiditas di masyarakat. 

“Masyarakat harus menghadapi tren inflasi pangan, [yang] menyebabkan masyarakat harus menggunakan tabungannya untuk keperluan konsumsi. Ada istilah ‘mantab’ makan tabungan,” ujarnya pada Bisnis.

Dia menilai terjadi pergeseran porsi, di mana penghasilan masyarakat untuk tabungan telah dialihkan untuk konsumsi. Apalagi, belakangan terjadi inflasi pangan cukup tinggi mencapai 8,5% per Februari 2024.

Lebih lanjut, dia memaparkan, berdasarkan data rata-rata bulanan, Indeks Penghasilan saat ini mengalami penurunan pertumbuhan pada seluruh kelompok pengeluaran. 

Bila dirinci terdapat lima kelompok pengeluaran, yakni Pengeluaran Rp1 juta-Rp2 juta; Pengeluaran Rp2,1 juta-Rp3 juta; Pengeluaran Rp3,1 juta – 4 juta; Pengeluaran Rp2,1 – 5 juta dan pengeluaran di atas Rp5 juta. Masing-masing tumbuh 28,1%; 36,6%; 35,6%;  31,3% dan 31,6%.

Sementara untuk 2023, tiap kelompok hanya tumbuh 0,13%; -2,28%; 5,04%; 5,74% dan 7,29% Hal ini juga tercermin dari proporsi tabungan masyarakat di seluruh kelompok pengeluaran menurun, bahkan kontraksi. 

Tercatat masih dengan kategori yang sama, rasio tabungan per kelompok pengeluaran tumbuh 7%; 10,4%, 11,1%; 7,9% dan 6,3% pada 2022. Angka tersebut lebih tinggi dibanding tahun lalu atau 2023 yang hanya -3,1%; -4,7%; -0,6%; -0,2% dan 0,7%.

Senada, Executive Director Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan nasabah individu mengalami perlambatan karena banyak yang mulai makan tabungan di tengah kondisi pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper